Tuesday, April 8, 2014

Cerpen Horror: MIDNIGHT PRAGUE

Cerpen Horror

MIDNIGHT PRAGUE 



“Pemuda itu bertekad mencari kekasihnya melalui lorong bawah tanah. Dia ingin menemukan kekasihnya yang sudah menjadi biarawati dengan cara menggali lorong yang bisa menembus ke ruang bawah tanah gereja tempat kekasihnya di sekap. Tapi dia ketahuan oleh pihak gereja. Akibatnya, pemuda itu di eksekusi mati karena di anggap telah melakukan pencemaran nama baik terhadap gereja. Sang biarawati sendiri di kurung kembali di ruang bawah tanah. Tapi dia mati di hari yang sama saat pemuda yang menjadi kekasihnya itu di bunuh.”
Suasana tetap hening. Beberapa turis malah sibuk memotret suasana di sekeliling gereja. Lalu pemandu tur itu melanjutkan ceritanya. “Terkadang ada beberapa jemaat yang mendengar tangisan sedu dari bawah lorong. Konon katanya itu adalah arwah biarawati yang mati. Terkadang juga ada yang melihat roh biarawati itu berkeliaran di sekitar gereja.”
Aku dan Noa sudah mendengarkan cerita demi cerita dari satu tempat ke tempat lain melalui serangkaian wisata hantu yang disediakan oleh pariwisata di Praha. Tadi guide tour menceritakan tentang hantu kekasih yang di hianati dan ini yang terakhir—hantu biarawati. Sang pemandu wisata horor menutup tur tepat di depan gereja tempat hantu biarawati tersebut dipercaya tinggal. Para peserta pun dibebaskan untuk bepergian ke mana saja setelah tur tersebut berakhir. Tapi aku dan Noa memutuskan untuk kembali ke Hotel saja.

***

Comeone, Sugar. Tidak ada dongeng tentang hantu disini, yang di katakan guide tour hantu itu hanya bohong!” kataku pada Noa saat melihat dia tidak berani pergi ke kamar mandi sendirian.
“Terserah, tapi aku tadi benar-benar bisa merasakan kalau hantu biarawati itu ada. Juga tentang cerita hantu kekasih yang di hianati itu, aku sangat percaya. Banyak turis yang membuat kesaksian kalau dia benar-benar melihat hantu dengan gaun putih itu berkeliaran di kota dengan kepala yang terpenggal. Konon katanya yang memenggal kepala pengantin perempuan itu adalah mantan kekasihnya yang cemburu. Kekasihnya itu telah lama pergi. Saat kekasihnya itu kembali, si perempuan malah menikah dengan pria lain. Mereka ada, Jesse!”
“Itu hanya rekayasa. Kalau memang hantu pengantin yang kepalanya di penggal itu ada, harusnya kita tur ke makamnya. Bukan malah ke Kota Tua!”
 “Kau belum tahu apa yang terjadi sebelum kau bertemu dengannya.”
“Orang hiduplah yang perlu di waspadai. Bukan hantu!” tukasku.
Tidak ada tour  paling aneh selain paket wisata hantu yang disediakan oleh kota ini. Noa yang memilih paket wisata kami, Gosht Tour. Katanya dia tidak ingin kehilangan sedikitpun momen untuk berwisata di kota tua Eropa, Praha. Sebenarnya aku juga suka dengan tempat ini, ada hal yang sangat menarik yang bisa kurasakan di negeri seribu dongeng.
Aku bisa menikmati pemandangan kota tua dari balik jendela kaca hotel yang mungil berbentuk persegi, memamerkan keindahan Old Town Square yang di terangi cahaya lampu jingga. Aku suka Praha. Tapi sekaligus merasa sedikit ngeri ketika membayangkan bagaimana dulu kota ini jatuh bangun berabad-abad silam oleh perang. Tapi masih tetap bisa berdiri kokoh hingga saat ini. Jika Noa mau, aku ingin menikah di sini. Bukan di Den Haag, tempat kelahiranku hingga aku tumbuh sematang ini.


Noa memutuskan tidur lebih dulu setelah dia mandi. Sedangkan aku memilih keluar untuk berjalan-jalan di sekitar hotel, berharap bisa menemukan bar atau kafe yang bisa memberikanku sesuatu untuk menghangatkan badan. Meskipun musim dingin sudah berlalu dan musim semi sudah dekat, tapi ternyata udara di Praha tidak sama dengan udara di Belanda. Kabut menghujam datang ketika aku keluar dari pintu hotel dan mendapati beberapa pasang kekasih berlalu-lalang kembali ke tempat menginap masing-masing.
Penjaga pintu hotel bilang kalau aku bisa menemukan bar dengan kualitas yang bagus dan harga yang terjangkau di seberang bangunan tua yang ada di depan hotel. Tapi aku harus cepat pulang sebelum jam dua belas malam, terkadang banyak orang jahat berkeliaran dan mereka tidak segan-segan akan merampok turis dari luar negeri. Meskipun ada polisi, tapi sepertinya keamanan disini masih belum bisa mengatasi kejahatan lokalnya.
Sebuah tulisan “Velvet Gate” terpampang di sebuah bangunan kecil mirip kedai.  Seorang gadis dengan penampilan menarik langsung menyambutku dengan senyumannya di meja bar. Aku hanya perlu menunjukkan tanda “V” pada jariku, gadis itu langsung paham apa yang kupesan. Vodka. Aku perlu menghangatkan badan.
Gadis itu bertanya padaku dengan bahasa inggris yang luwes. Apakah aku menikmati liburanku, aku tersenyum padanya dan kukatakan kalau aku sangat menyukai Praha. Dia bisa menebak darimana asalku. Aku senang, setidaknya orang Belanda memiliki ciri khas di matanya. Sepertinya dia penjual yang ramah, dia selalu berusaha membuat obrolan menarik di sela-sela pekerjaannya, setidaknya itu membuat pelanggan atau turis asing tidak merasa bosan.
“Anda sudah berkunjung ke Prague Castile?”
Aku menggeleng. “Besok!” jawabku singkat.
Aku lebih suka mendengarkannya bercerita. Sama halnya ketika aku suka mendengarkan Noa bercerita dengan menggebu-gebu. Gadis ini juga bertanya padaku apa kesanku dengan Kota Tua. Aku jawab, Praha sangat keren. Kesan yang aku tangkap ketika berada disini adalah, aku seperti diseret ke kota abad pertengahan yang masih bisa berdiri dengan megah dan gagah. Belum lagi unsur mistis dan senyap yang di tawarkan kota ini. Di Praha, aku seperti hidup dalam masa lalu dan menjadi salah satu rakyat dari Raja Charles IV di abad pertengahan.
Setelah puas minum dan membayarnya. Dengan sedikit mabuk, aku keluar dari bar. Payahnya, saat sudah berada di luar, aku lupa harus berjalan ke arah mana. Jalanan sudah sangat lengang dan hanya tersisa lampu-lampu jalan yang membisu. Dengan langkah gontai, aku terus berjalan tak tentu arah, berharap bertemu dengan seseorang yang menuju arah yang sama denganku, hotel.
Didepan, jalanan semakin gelap.  Bangunan-bangunan tua  terlihat tinggi menjulang seperti monster raksasa hitam yang siap menelanku hidup-hidup. Disisi kiri dan kanannya terdapat banyak bar dan restoran yang sudah tutup, mereka  seperti membentuk sebuah lorong kematian. Aku terus berjalan melewati lorong gelap dengan tiang-tiang lampu yang hanya hidup beberapa.


Dari balik sebuah tiang bata yang sudah tua, kulihat tiga orang laki-laki dengan celana belel dan kaos yang bau mendekatiku. Tangan mereka menarikku kesebuah lorong yang jauh lebih gelap di antara bangunan tinggi. Aku tak bisa melawan. Masing-masing dari mereka melekatkan sebuah pisau dengan ujung yang runcing ke leher dan ulu hatiku. Saat  mereka mengambil dompet dan ponselku, kurasakan sebuah hantaman keras mengenai kepalaku. Terakhir yang bisa kudengar adalah, denting suara jam yang berbunyi sekali. Selanjutnya, yang kurasakan hanya gelap. Perih. Dingin.


Kegelapan itu membuatku makin sesak dan lemah. Aku tidak ingat apa yang sudah terjadi beberapa saat lalu setelah kepalaku di hantam seseorang dari belakang. Sepertinya terjadi sesuatu, tapi aku tidak peduli lagi. Aku harus lapor polisi dan mengatakan bahwa aku baru saja kerampokan. Tapi begitu keluar dari lorong gelap itu, aku tidak bisa menemui satu orangpun. Cahaya juga makin muram di terpa kabut yang mulai rendah. Hanya cahaya lampu jalan berpendar kemuning saja yang bisa membuatku tahu kalau di depan sana masih ada jalan. Kuputuskan berlari untuk mencapai tempat terdekat yang ada petugas keamanannya, berharap aku tidak bertemu dengan perampok lagi. Tapi jalanku masih gontai. Aku lemah.
Sebuah hawa dingin menerpa bersamaan dengan rendahnya kabut. Semakin aku berjalan maju, semakin hawa dingin itu menjalar hingga menusuk ke setiap pori-pori kulitku. Dari balik kabut, kulihat seorang perempuan dengan gaun putih panjangnya berjalan di depanku.
Excuse me, Miss!” sapaku padanya. Tapi dia tidak menoleh dan terus saja berjalan. “Miss!” panggilku lagi. Kali ini dia berhenti, menolehku sedikit, lalu dia berjalan lagi. Sepertinya terjadi sesuatu dengannya. Jadi kuputuskan untuk terus mengikutinya. Aku khawatir, dia juga adalah korban perampokan, sama sepertiku. Selain itu, aku juga berharap bisa menemukan polisi jika berjalan bersamanya. Tapi jalannya terlalu cepat, dia mendahuluiku.
Aku masih bisa melihat dia, perempuan dengan gaun putih panjang yang menjuntai hingga ke tanah. Dia terus berjalan menuju kesebuah bangunan yang tadi siang tidak pernah kulihat. Mungkin karena kabut yang pekat di pergantian musim ini, sehingga mengaburkan pandanganku untuk melihat bangunan apa yang berdiri seratus meter dari tempatku berpijak.
Perempuan itu membelakangiku, tapi langkahnya tampak mantap menuju ke sebuah kapel. Namun tiba-tiba terdengar suara ringikan kuda yang melengking dari arah belakangku, aku segera minggir, meskipun dalam hati aku merasa heran sekaligus kesal. Ini bukan waktu yang tepat dan tempat yang benar untuk berkuda. Tidak ada kereta lagi yang berkeliling di sekitar Old Town Square. Tapi tanpa kuduga, perempuan itu sempat menolehkan wajahnya padaku meskipun hanya selintas. Matanya biru, aku bisa melihat sinarnya dari cahaya bulan yang menentang. Dia langsung lari begitu suara ringikan kuda makin jelas terdengar.


Tidak ada orang di sekelilingku saat ini, jalanan ini begitu sepi dan gelap, hanya cahaya bulan yang menerangi sudut jalan ini. Perempuan itu terus berlari dengan gaun putihnya yang menjuntai. Aku dengan seluruh rasa penasaranku, mengejarnya. Tidak ada pengendara berkuda yang lewat di sekelilingku meskipun suara itu jelas terdengar di telingaku. Tapi perempuan itu sepertinya ketakutan dan larinya makin kencang. Dia menghilang.
Jalanan semakin gelap dan sepi. Aku bingung harus mencarinya kemana lagi. Tapi suara tapak kaki kuda yang berjalan ke arahku makin jelas dari arah depan. Sepertinya dia kembali. Sekarang pilihanku hanya dua, kembali atau sembunyi. Tapi akhirnya kuputuskan untuk sembunyi.
Dari balik dinding tua ini aku bisa mengamati apa yang terjadi. Perempuan itu seperti diseret oleh sesuatu yang tidak tampak. Dia menangis. Gaunnya koyak. Suara ringikan kuda makin jelas terdengar di telingaku, seolah makhluk itu berada tepat di dekatku. Aku ingin menolong perempuan bermata biru itu. Tapi sayangnya,  sesuatu terjadi dengan sangat cepat. Sebuah kilatan lurus dan berkilau, berkelebat cepat di kegelapan. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi, tapi tubuh bergaun putih itu ambruk dan ada sesuatu yang hilang. Kepalanya.
Kepala itu menggelinding tepat di bawah kakiku. Dengan tubuh yang masih bergetar hebat, kulihat benda bulat berwarna hitam dengan rambut panjangnya berada tepat di antara sela kakiku. Mata yang tadinya tertutup, kini terbuka lebar dan menatapku tajam. Bibirnya biru karena tidak ada darah yang mengalir diwajahnya langsung membuka dan tersenyum, menampakkan sebuah lubang kecil yang hitam dan mengeluarkan aroma  busuk.
Aku langsung berlari menjauhi benda bulat itu. Tapi sayangnya kakiku tidak bertenaga dan lariku jadi sangat lamban. Di belakang sana, masih terdengar suara ringikan kuda yang berjalan mendekat ke arahku. Aku terus berlari dengan kaki lemah, berharap bisa menemukan orang lain yang bisa menolongku dari kepala menggelinding dan suara kuda dengan pengendara yang tak kasat mata yang sepertinya sudah memenggal perempuan tadi.
Aku terus berlari dengan kaki yang lemah, tapi dari arah yang berlawanan denganku, berdiri sosok bergaun putih di bawah kapel yang sudah tua. Aku terus mendekat ke arahnya seperti didorong oleh suatu kekuatan yang aneh. Semakin dekat dengannya, semakin bisa kulihat jelas yang berdiri itu tidak memiliki kepala. Dia menghentikanku, hingga kini aku berdiri tepat berhadap-hadapan dengannya. Masih dengan kepanikan yang sama seperti tadi, kuperhatikan baik-baik gaunnya yang putih. Sebuah gaun yang cantik dan menjuntai hingga ke bawah. Di tangannya tergenggam sebuah buket yang tertutup kain putih. Tapi begitu kain putih itu tersibak, sebuah kepala muncul disana dengan matanya yang menatap tajam kearahku. Kakiku lemas. Tapi disaat yang sama juga suara kuda itu makin mendekat. Bayangan putih itu mendadak hilang.
Aku tidak ingin membuang kesempatan. Kukerahkan tenaga yang masih tersisa. Aku harus lari, setidaknya itulah yang bisa kulakukan. Langkahku terus maju dan tidak berani menoleh ke belakang, berharap kepala itu tidak mengikutiku. Suara ringikan kuda itu masih juga terdengar jelas di telingaku, tapi lamat-lamat suara itu menjauh pergi seiring dengan langkahku yang berlari menuju cahaya terang di dekat Old Town Orloj—Atronomical Clock. Jam astronomi.


Excuse me!” seruku pada sosok laki-laki bermantel hitam yang akan mengendarai Roll Royce-nya. Tapi dia tidak mengindahkanku. “Sir!” sapaku setelah aku agak dekat dengannya. Tapi dia tak kunjung menolehkan kepalanya padaku. Kutepuk bahunya. Dia menoleh. Tapi hanya memperhatikanku sekilas. Kemudian tidak lagi. Dia buru-buru masuk kedalam mobilnya. Dia melewatiku yang sedang tertegun memandangnya.
Di jalanan dekat dengan jam astronomi itu, jantungku di kejutkan dengan suara jarum jam yang selalu berbunyi setiap satu jam sekali. Lengkap dengan boneka-boneka di sisi jam bergerak-gerak yang konon ada roh yang masih menghuni disana, bulu kudukku meremang lagi. Seolah aku merasakan hantu pengantin tadi masih menguntitku. Aku tidak tahu sekarang jam berapa, tapi Old  Town Square sudah sepi dan hampir tidak ada yang melintas. Atronomical Clock berdentang tiga kali.
Ada seorang Pria yang kulihat dari kejauhan. Badannya tegap dengan mantel bulu coklat  sedang berdiri di depan Municipal House. Dia satu-satunya manusia yang bisa kutemui untuk saat ini. Aku berjalan mendekat ke arahnya. Tapi dia malah berjalan ke arah lain. Aku mengejarnya, berharap mendapatkan teman seperjalanan untuk kembali ke hotel.


Aku bersumpah, ini akan menjadi yang terakhir kalinya bagiku untuk berwisata di Praha. Jika bukan karena Noa yang tergiur paket liburan murah ke Praha, aku tidak mungkin mengikutinya. Aku terlalu mencintainya, tidak ada alasan buatku menolaknya untuk datang ke Kota Tua ini dengan segala macam keindahannya. Meskipun aku juga suka Praha. Tapi dengan kejadian barusan, aku memilih untuk segera mengakhiri liburan ini.
Dari jauh, aku melihat bangunan dengan tulisan “KAFKA’S HOTEL”. Lariku berubah kecil-kecil saat pria itu masuk kedalam Hotel. Dia menginap di tempat yang sama denganku. Setidaknya aku masih memiliki sedikit keberuntungan. Ketika masuk, petugas di lobi Hotel sedang tidak ada. Terpaksa aku harus menunda laporan dulu.
Rasanya lega sekali bisa mendapati Hotel lagi. Aku ingin istirahat. Semoga besok pagi aku bisa melihat Matahari yang cerah di Old Town Square bersama dengan Noa. Aku harap tunanganku itu masih tidur di kamarnya dengan lelap, sehingga dia tidak perlu khawatir mendapatiku yang tiba-tiba menghilang semalaman dan bertemu dengan sosok hantu yang tadi siang kami dengar ceritanya melalui guide tour. Hantu pengantin kekasih yang di hianati.

***


Noa mendadak menghilang. Entah apa yang sudah kulakukan semalaman, sehingga aku tidak tahu  tunanganku pergi kemana. Sepertinya aku ketiduran. Namun sepertinya juga aku tidak tidur. Tapi pergi entah kemana. Sekarang kepalaku terasa sangat ringan dan aku bisa berjalan seringan kapas. Rasanya seperti tidak ada beban.
Agak lama kutunggu Noa, tapi dia tidak kunjung datang. Kuputuskan untuk turun dari kamar dan memastikan kalau tidak ada yang terjadi padanya.
Tidak ada yang tahu kemana Noa pergi. Padahal aku ingin mengatakan padanya kalau lebih baik untuk mengakhiri rangkaian tur ini dan kembali ke Den Haag. Aku tidak bisa bertanya pada beberapa petugas hotel, sepertinya mereka sedang sibuk sendiri. Meskipun ada seorang petugas kebersihan Hotel yang melihatku dengan tatapan heran, tapi aku tidak mungkin bertanya padanya. Dia tidak mungkin tahu kemana perginya tunanganku.
Tidak berapa lama saat aku turun ke lobi, kulihat sebuah mobil patroli Polisi berhenti di depan hotel. Noa keluar darisana dengan wajah yang layu dan sembab. Wajahnya merah dan dia terlihat sangat terguncang.
“Noa, Wat is er gebeurt?” tanyaku padanya apa yang sudah terjadi. Tapi sepertinya dia tidak bisa menjawabku. Kuminta dia dari tangan para petugas, tapi sepertinya petugas-petugas itu tidak memedulikanku. “Hey, beraninya kalian! Wie bent u?”tanyaku dengan marah.
Mereka naik ke lantai atas, aku mengikuti mereka dari belakang sambil menahan panik. Ada apa dengan tunanganku?
“Tenanglah, Miss. Polisi akan mengusut kasus ini secepatnya. Sementara ini, sebaiknya anda mempersiapkan upacara kematian tunangan anda. Kami akan memberi fasiltas untuk mengantar jenazah hingga kembali ke Den Hag,” seorang polisi wanita menenangkan tunanganku dan memeluknya erat setelah mereka sampai di kamar.
Siapa yang mati?
“Dia keluar semalam, dia tidak bilang apa-apa saat pergi...” tangis Noa pecah lagi.
Polisi wanita itu mengelus bahu tunanganku. “Dia pergi ke bar, setidaknya ada yang bisa mengenali mayat tunangan anda ketika dia di temukan, yaitu gadis bar yang sebelumnya sempat bercengkrama dengannya. Anda harus bersyukur karena masih ada yang bisa menemukannya. Tidak ada identitas sama sekali saat dia di temukan dengan kondisi organ dalam yang sudah hilang.”
“Kalian harus menangkap perampok keji itu. Orang yang sudah membuat tubuh tunanganku berantakan. Ginjalnya pasti sudah di jual di pasar gelap. Oh...” lagi-lagi Noa menangis dengan ratapan yang memilukan.

Kakiku lemas. Aku masih belum tahu apa yang terjadi. Tapi aku sudah tidak bisa lagi merasakan kakiku menyentuh tanah. Saat kepalaku menoleh ke sebuah cermin di meja rias, bayanganku tidak memantul disana. Aku hilang.


-----END-----


Sunday, April 6, 2014

Ispirate: AKU DALAM SEBUAH NAMA

Ispirate


 AKU DALAM SEBUAH NAMA

Namanya Vitamin C. Aku memanggilnya seperti itu. Dia teman satu kelas dan pendiamnya lebih parah daripada patung Selamat Datang Jakarta.
Kami mahasiswa fakultas hukum dan sedang duduk di semester satu.
Namanya Vitamin C. Aku lebih suka memanggilnya seperti itu. Dia tampan dan mirip seperti aktor Taiwan sekaligus member boyband Fahrenheit, Wu Chun. Saking tampannya, aku sampai tidak bisa berkutik saat memandangnya. Duniaku teralihkan seperti jargon iklan sabun wajah. 


Vitamin C, begitu aku memanggilnya. Dia tidak sama seperti teman-temanku yang lain. Meskipun pendiam, itu hanya kesannya saja. Sebenarnya dia cukup supel dan bisa berteman dengan siapa saja. Tapi sepertinya, dunia diam itulah yang membuatnya lebih suka untuk dia tinggali. Daripada harus ngerumpi atau mengobrol dengan teman se-geng yang notabene membicarakan masalah yang sama. Hukum, Politik, Negara dan Pemerintahan.
Teman Vitamin C di kelas hanya beberapa yang dekat dengannya. Sedangkan aku, aku seperti memiliki anak buah yang siap digiring kemana-mana. Hitung-hitung, menikmati masa muda dan menikmati indahnya hidup menjadi Mahasiswa tingkat pertama. Entah ada berapa anak yang merasakan bangga ketika bisa duduk di bangku kuliah selain aku. Mungkin tidak satu, tapi banyak.
Vitamin C tidak sepertiku atau seperti anak-anak lain yang sedang duduk di bangku kuliah. Ada satu fakta yang membuatku kaget. Ternyata dia adalah mahasiswa yang sedang ngulang ke tingkat awal lagi gara-gara banyak nilainya yang berantakan. Seorang kakak dari semester lima memberitahuku jika dia bukan hanya mengulang. Tapi kembali. Dua tahun yang lalu, Vitamin C sudah menjalani kuliahnya hingga semester empat. Tapi banyak nilainya yang tidak lulus. Akhirnya dia keluar. Tapi satu tahun kemudian, dia kembali dengan status mahasiswa baru. Sama sepertiku dan yang lainnya di tingkat pertama.
Wu Chun, maksudku Vitamin C. Banyak di kenal dosen. Terutama ketika mata kuliah Bahasa Belanda. Dosen kami sering menggunakan Vitamin C sebagai ‘alat peraga’. Dia akan di suruh maju ke depan untuk mengajarkan kepada kamu bagaimana cara membunyikan huruf ‘U’ dalam Bahasa Belanda.
Dimataku, Vitamin C sangat luar biasa. Super keren dan beda dari yang lain. Sering aku mengaguminya secara terbuka di depan gengku. Bahkan aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagumku ketika melihatnya. Teman-temanku bilang, mataku tidak bisa berbohong. Mataku akan terlihat menyala ketika Vitamin C lewat di depan hidungku, ketika dia duduk di seberangku, ketika dia menolehku, ketika dia menyapaku atau ketika mengutarakan pendapat, juga pertanyaannya ketika kami sedang presentasi makalah.
Dia selalu bertanya. Dimataku, dia terlihat cerdas. Sekaligus tampan. Apapun yang di milikinya, dari kepala hingga ujung kaki, aku menyukainya. Dia tipe yang sempurna untuk didapatkan. Akan sangat bodoh jika di sia-siakan.
Aku sering iri pada teman-teman cewek yang ada di sekelilingnya. Meskipun tidak banyak dan hanya dua ekor. Tapi mereka sangat dekat dengan Vitamin C. Aku cemburu ketika dia bisa tertawa bersama dengan mereka. Bahkan aku sering bermimpi, kapan akan datang masanya  aku bisa tertawa bersamanya, bersenda gurau atau berbincang dengan sangat akrab. Meskipun aku tidak pernah mengharapkan lebih, tapi saat itu rasa kagumku berubah dengan sendirinya menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Hingga tersematlah sebutan Vitamin C untuknya.
Aku sering merasa lemas ketika tidak bisa memandangnya barang satu hari saja. Seperti orang kekurangan asupan nutrisi.

***

Pelan namun pasti, aku membiasakan diri tidak hidup dari semangat melihat Vitamin C. Meskipun hidupku seperti orang kekurangan suplemen. Layu.
Hingga detik terakhir aku berada di semsester satu, hanya tiga kali aku mendengarnya bertanya padaku. Pertama, ketika aku presentassi makalah. Kedua, ketika dia bertanya mengapa aku memiliki binder yang sangat unik—tiga dimensi. Ketiga, ketika dia memanggilku dengan nama lain.
Awalnya, aku tidak menyadari ketika dia memanggilku dengan nama Heni. Aku pikir dia sengaja melakukannya untuk menyebutku sebagai ‘panggilan sayang’. tapi ternyata, aku baru tahu kalau dia benar-benar tidak tahu namaku ketika kami sudah sama-sama duduk di semester enam.
Dia tidak mengetahui namaku. Teman sekelasnya dari semester satu. Orang yang mengagumi dia. Manusia yang selalu di ajukan pertanyaan ketika presentasi makalah. Aku tidak percaya. Dia benar-benar menyebutku dengan nama lain lantaran tidak pernah tahu namaku.

***

Semester enam itu datang. Aku duduk di reguler malam sudah sejak semester dua lantaran pekerjaan. Sedangkan dia baru pindah ke reguler  malam juga lantaran dia harus bekerja paruh waktu. Hanya saja, kami berbeda kelas. Aku duduk di Claster Pidana. Sedangkan dia ada di Claster Perdata.
Dia mengetahuiku. Dia sering menyapaku ketika kami tidak sengaja berpapasan di koridor kelas. Aku sering mengobrol bersamanya meskipun hanya lima menit. Aku tidak tahu, apakah dia bisa merasakan betapa aku bahagia ketika bisa berbincang dengannya. Seperti gadis kecil yang baru memahami cinta monyet. Aku seperti itu. Puber tidak jelas.
Aku mengobral cerita tentang rasa kagumku pada beberapa teman di kelas. Mereka sering mengataiku dengan sebutan ‘nenek-nenek genit’. Tapi mau bagaimana lagi, rasa kagum dan mataku benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.
Setiap kali kami berpapasan. Setiap kali kami bertemu, aku selalu menuliskan prosa  yang menceritakan detik-detik menegangkan itu kedalam buku diary.
Semakin hari pertemuan kami semakin sering. Aku merasa sedang menjadi manusia paling bahagia di seluruh lapisan Bumi ini. Tapi kebahagiaan itu mendadak musnah begitu aku memastikan kenyataan itu. Namaku.
Dulu aku tidak pernah suka ketika beberapa temanku mengatakan kalau Vitamin C itu aslinya bodoh. Dia tidak seperti kelihatannya. Dia tidak sepintar pertanyaannya ketika debat makalah. Fakta lain yang di temukan temanku adalah, Vitamin C selalu mencari pertanyaan melalui Mbah Google, bukan hasil pemikirannya sendiri. Itu sebabnya pertanyaannya jadi terlihat cerdas dan mantap. Padahal sebelum dia, sudah ada manusia lain yang membuat pertanyaan yang dia utarakan.
Ketika itu, aku membela Vitamin C. Terlepas dari rasa kagumku padanya. Aku juga tidak menyukai cara teman-temanku yang tadinya kecewa padanya, tidak menyukainya dan berujung pada mengolok-olok nama Vitamin C di belakang orangnya. Bagiku, yang seperti itu sama sekali tidak sportif. Aku membela Vitamin C dengan mengatakan kepada mereka, bahwa kita juga tidak sepintar kelihatannya. kita adalah sama. Kita pintar membuat taktik dengan menyusun setiap paragraf demi paragraf melalui tombol copy paste. Sedangkan dia juga sama. Menyadur. Sumbernya juga sama: Google.
Sekarang, semua kelihatan menjadi sangat terang. Setelah dua hari lalu dia meminta nomor teleponku dan aku memberikannya plus dengan menuliskan namaku sejelas-jelasnya. Tadinya aku merasa senang dan berharap dia akan menghubungiku. Tapi kenyataannya, dia baru melakukan kontak SMS setelah tiga hari kemudian. Tepatnya siang hari. Dia memintaku untuk membawakan beberapa buku materi untuk dia pinjam. Aku maklum, dia selalu telat saat ke kampus. Aku rasa dia juga sering telat mengikuti kuliah.
Namun rasanya bukan hanya persoalan telat. Ada hal lain yang membuatku merasa sangat sensitif. Setelah aku menuliskan namaku di handphonenya yang mahal dan keluaran terbaru, dia masih tetap menyebutku dengan nama yang sama seperti dulu: Heni. Kalaupun beda, dia menyebutku dengan nama yang lainnya: Eli. Kalaupun ada nama lainnya lagi: Eri. Padahal namaku: JENI.
Aku tidak tahu apa masalah Vitamin C dalam menyebutku. Mungkin dia merasa nama JENI tidak cocok di sematkan dalam diriku. Mungkin juga salah satu pacarnya ada yang memiliki nama itu. Aku hanya menduga-duga saja. Tapi yang jelas, orang yang aku kagumi benar-benar sangat mengecewakan. Aku tidak tahu kalau dia bisa mengalami disleksia dalam memahami nama orang. Yang jelas, aku tidak pernah bertanya padanya mengapa dia sering memanggilku dengan nama yang berbeda-beda. Atau mungkin dia sedang melakukan manuver untuk mencoba nama apa yang cocok di tempel di jidatku.
“Hen, Heni! Hen!!”
Dia pernah memanggilku dengan nama itu ketika aku akan pulang kuliah. Di parkiran depan gedung Pasca, aku menoleh ke arahnya yang sedang duduk bersama dengan salah seorang teman sekelasnya. Cewek. Entah kenapa, aku sudah tidak cemburu lagi. Malah bersisa rasa jengkel.
“Mau pulang?” tanyanya.
Aku mengangguk. Ketertarikanku padanya sudah lenyap. “Iya.” Aku tetap berusaha ramah. Bagaimanapun, aku bukan makhluk yang super tega untuk mengacuhkannya. Meskipun dia sudah membuatku jengkel dengan memanggilku yang bukan namaku. Padahal akan lebih baik kalau dia memanggilku dengan nama julukan saja: JEJE.
“Oh!” bibirnya membentuk huruf ‘O’. “Ati-ati!”
Sudah, hanya begitu saja. Itu menjadi basa-basi terakhir yang aku terima darinya. Seiring berjalannya waktu, aku sudah  jarang dan hampir tidak pernah bertemu dengannya lagi. Jika bertemu sekalipun, dia sudah tidak pernah lagi menolehkan wajahnya ke arahku. Aku tidak tahu apa masalahnya denganku. Tapi yang jelas, aku mendiamkannya.

***

Vitamin C hanya contoh kecil dari kesekian orang yang memiliki masalah yang hampir serupa dengan namaku. Dia memang bukan yang pertama bermasalah dengan namaku, tapi dia yang paling parah di antara yang sudah-sudah. Aku tidak tahu apa masalah mereka. Tapi mereka hampir selalu menayakan hal yang sama: APA ARTI DARI NAMAMU?
Aku sendiri tidak tahu apa artiku dalam sebuah nama. Aku tidak pernah tahu apa arti namaku. Bahkan aku tidak tahu bagaimana sejarahnya hingga nama itu tersemat dalam akta kelahiranku. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa Bapak menemukan namaku, karena Bapak sendiri tidak bisa menjawabnya. Cukup aneh memang.
Lama aku meragukan namaku. Hingga beberapa menit lalu aku menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan. Aku menemukan satu fakta tentang namaku.
Tanpa sengaja aku menemukan sebuah foto yang di gunting kecil. Ketika aku mengambil dan mengamatinya, aku baru sadar kalau gadis kecil dengan kebaya dan konde sebesar semangka di kepalanya itu adalah aku. Itu adalah aku ketika TK dulu. Aku berdandan ala putri keraton dan dinaikkan di atas kereta kencana yang ditarik oleh kuda. Sedikit lucu melihat foto itu, dulu nenek bilang kalau saat itu aku sedang menjadi Putri Solo. Tapi setelah aku perhatikan lagi, aku lebih mirip dengan Mbok Emban.
Di balik foto itu, aku menemukan sebuah bukti yang sangat mengejutkan. Bahkan jantungku masih berdetak sangat kencang hingga saat ini. Tanganku tidak bisa berhenti gemetaran. Aku terlalu senang, sekaligus terharu. Mataku panas dan aku ingin menangis.
Foto itu kutunjukkan pada Ibu. Ku perlihatkan padanya sebuah tulisan empat karakter kata di balik foto itu. Disana tertulis: JENI AMELIA IKA WULANDARI.
“Apa artinya itu, Bu?” tanyaku seolah menuntut jawaban secepatnya.
Ibu tersenyum sekilas, lalu meletakkan foto itu di atas meja riasnya. “Itu nama kamu dulu. Aslinya nama kamu ya itu. Aku memberimu nama IKA WULANDARI. Panggilannya ANDARI. Aku bahkan ingin membaliknya menjadi WULANDARA agar aku bisa memanggilmu ANDARA. Tapi sayang, Bapakmu nggak setuju. Waktu itu kami berdebat. Tapi kesepakatan nama empat karakter itu kami pegang. Namun ternyata nenekmu dari Bapakmu nggak setuju, alasannya nama itu terlalu panjang dan nanti malah bingung mau panggil apa. Tapi aku tetap kekeuh dengan nama alternatifku. Akan tetapi setelah di buatkan surat kelahiran, namamu jadi dua karakter saja. JENI AMELIA. Nama pemberian Bapakmu.”
Penjelasan yang cukup simple dan biasa. Tapi bagiku berdampak sangat besar. Aku tidak akan menanyakan apa arti dari namaku yang sudah tertulis di surat kelahiran kala itu. Karena Ibu pun jelas tidak tahu apa  arti dari namaku. Tidak satupun dari mereka yang tahu apa arti JENI dan apa arti AMEL.
“IKA WULANDARI itu artinya apa, Bu?” tanyaku iseng.
“IKA itu dari EKA. EKA, EKO adalah nama untuk anak pertama. Sedangkan WULANDARI itu karena kamu lahir mendekati akhir bulan. WULAN artinya BULAN.”


Hatiku langsung membuncah. Hidungku kembang kempis. Entah kenapa, aku merasa sangat bahagia. Mungkin karena aku sebenarnya memiliki nama lain yang punya arti. Meskipun arti yang tidak terlalu bagus, tapi setidaknya nama itu ada artinya. Karena semenjak aku menyadari kalau namaku sulit di temukan artinya, aku jadi sedikit jengkel dengan William Shakespeare yang mengucap syair andalannya, bahkan terkutip dalam film Titanic: “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” 
Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia akan tetap harum baunya.


Mungkin hanya aku yang blingsatan memikirkan apa arti namaku di antara triliunan umat yang ada di seluruh dunia. Sebagian besar dari mereka yang hidup mungkin tidak akan pernah berpikir tentang nama mereka. Bahkan jika mereka tidak bernama sekalipun, mereka tetap tidak akan peduli.
Namun tidak denganku. Aku mulai memikirkan arti namaku sejak SMA. Ketika Guru Sastraku bertanya apa arti namaku. Aku tidak bisa menjawab. Bahkan mengarang kebohongan saja aku tak sanggup. Sedangkan seluruh teman sekelaskupun, bahkan yang hanya memiliki satu karakter nama saja memiliki arti didalamnya. Sedangkan aku?
Aku sudah bertanya pada Bapak, tapi dia tidak tahu. Aku tidak mungkin bertanya pada Ibu, karena bukan dia yang memberiku nama. Sejak saat itu, aku selalu berusaha mengganti namaku. Akan lebih baik jika aku menyematkan sebuah julukan saja daripada harus nama lengkap tapi tidak ada artinya.
Ketika aku menyuruh semua teman-teman baruku memanggilku dengan ‘JEJE’, entah kenapa aku merasa lebih baik. Ketika mereka bertanya kenapa, aku cukup mengatakan alasan dasar saja, karena namaku adalah JENI. JENI AMELIA.
Seiring berjalannya waktu, aku berpikir satu hal lagi tentang namaku agar memiliki arti. Aku mulai membentuk namaku sendiri agar dia memiliki arti. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan sampai bertahun-tahun aku memikirkan sebuah nama yang memiliki arti, hingga tercapailah pada satu kesepakatan nama.
Aku memutuskan untuk membuat nama JENI SUHADI. Ketika aku membuat nama itu, duniaku seperti gempar mendadak. Semua teman-teman yang mengenalku langsung beramai-ramai bertanya padaku. Dan inti pertanyaan mereka selalu sama.
“Siapa SUHADI? Suamimu? Kapan kamu nikah?”
Aku terkekeh. Sebenarnya aku sedang menertawakan diri sendiri. Bukan mereka. Aku sedang merayakan kebahagiaanku memiliki nama baru. Karena akhirnya aku akan bisa menjawab. Meskipun dengan arti yang sangat sederhana sekalipun.
“JENI itu namaku. Sedangkan SUHADI itu nama Bapakku. Jadi artinya, Jeni itu adalah anaknya Bapak Suhadi.”
Teman-temanku banyak yang langsung mengeluh. Ada juga yang tertawa. Ada lagi yang mencibir. Mereka membuat ekspresi masing-masing. Tapi sebagian dari mereka tetap memanggilku dengan dengan nama panggilan biasa, ‘JEJE’. Aku rasa itu lebih aman.
Sekarang, setelah mengetahui satu fakta jika aku memiliki nama lain, yaitu IKA WULANDARI. Aku merasa namaku bertambah lagi. Bahkan beberapa detik lalu aku berpikir, andai saja ada yang memanggilku dengan nama BULAN karena arti dari WULAN itu sendiri. Membayangkannya saja, aku langsung geli. Mungkin tidak akan cocok.
Aku pun akhirnya menyadari sesuatu. Bahwa nama memang hanyalah nama. Shakespeare memang tidak keliru. Dia membuat sebuah perumpamaan yang cerdas. Seperti halnya mawar, jika namanya bukan mawar sekalipun, dia masih  tetap akan harum baunya. Begitupula denganku, meskipun namaku bukan JENI AMELIA IKA WULANDARI, tetap saja aku adalah aku. Tapi apalah artiku tanpa sebuah nama? Apalagi keliru nama? Siapa aku jika aku bukanlah JENI SUHADI atau IKA WULANDARI?
Shakespeare memang tidak sedang mempersoalkan arti sebuah nama. Ia sedang mengajak pembacanya merenungkan esensi, keaslian, atau hakikat sebuah materi, apapun namanya. Mungkin jika Shakespeare hidup di tahun over Milenia saat ini, dia akan sangat kaget melihat begitu banyak pemilik nama yang merubah namanya sesuai dengan keinginan masing-masing, bahkan terkadang di personifikasi. Seperti halnya denganku.
Akan tetapi, jika mengingat syair Shakespare, aku tidak bisa membayangkan jika mawar yang saat itu belum memiliki nama, lalu di ketemukan oleh Sir Stamford Raffles  dan Dr. Joseph Arnold . Aku rasa namanya akan berubah menjadi Raflesia Arnoldi. Apakah orang akan tetap berangkat memetiknya? Apakah orang akan beramai-ramai memujanya?
Mungkin itu juga yang ingin dilakukan Vitamin C padaku, dia ingin menamaiku dengan nama yang lain.
Bahkan Tuhan-pun menyuruh Adam beserta anak-cucunya untuk memberi nama benda-benda untuk menunjukkan kecerdasan mereka.
Aku sedang menunjukkan pada dunia tentang kecerdasanku untuk memilih nama dengan arti yang benar.


-----END-----


Sunday, March 16, 2014

NIJIKON? YES I AM

Cerita Ngaco 

NIJIKON? 
YES I AM


Nijikon (二次コン) adalah istilah slang dalam bahasa Jepang yang digunakan untuk merujuk orang yang hanya tertarik atau terobsesi dengan wujud dua dimensional berupa karakter anime, manga, dan permainan video, yang umumnya dipresentasikan di atas kertas atau layar, beserta figur boneka dari karakter tersebut.

Istilah ini merupakan singkatan dari istilah Nijigen kompurekkusu (二次元コンプ レックス ) biasa di kenal dengan sebutan  Nijigen Complex. 

Ciri-ciri (yang bisa terlihat) seorang Nijikon stadium menengah ke atas adalah sebagai berikut:
1. Mengaku istri pada salah satu tokoh anime/ manga. Atau 'poligami' dengan membuat semacam harem terhadap beberapa tokoh anime/manga (hal seperti ini biasanya ditemukan di forum- forum anime/manga).

2. Cenderung kurang berselera atau bahkan tidak tertarik apabila 'ditawari' Cewe 3D (Cewe real, Red.). Sebagian dari mereka bahkan mengaku hanya menyukai Cewe 2D (Cewe dalam anime/manga, Red.).

3. Rela menghabiskan uangnya untuk membeli merchandise yang berkaitan dengan tokoh anime favoritnya tersebut, biasanya yang dibeli adalah figurine, poster, manga/komik, artbook, t-shirt, dsb.

4. Menghabiskan waktunya untuk menonton anime, membaca manga, atau memainkan game-game bishoujo/dating-sim/hentai;
cenderung kurang bersosialisasi di dunia real (hikkikomori). Kalaupun bersosialisasi mungkin hanya sekitar penggemar anime/manga saja, atau dengan orang-orang yang satu minat dengannya.


5. Biasanya masih jomblo.

Gue jadi punya ide  untuk memperbaiki sakit jiwa, gara-gara  ngutip dialod di FTV barusan yang judulnya CINTA BERTEMU DI KANDANG KELINCI. Ceritanya ini set  antara Enyak sama anak. Ceritanya, si  anak  di paksa buat cepet-cepet  nyari pasangan, tp dia  lbh suka memelihara kelinci soalnya udah kayak keluarga sendiri.  Sedangkan enyaknya udah nyiapin jodoh buat anaknya kl dia ga bisa dapet jodoh  ‘ndiri. Selain itu, Enyaknya jg ngancem bakal buang semua kelinci-kelinci piaraan anaknya kalau sampe anaknya ga buruan dapet  jodoh.

Dialog terjadi di ruang tamu.

Si Enyak nyamperin anaknya yg lagi mandangin BB-nya, didalam BB itu terdapat banyak banget foto cowo yg lg naksir si anak tp Si anak malah ga suka & menganggap cowo itu temen doang. 

Enyak        : Ciiieeehhh... ngelihatin foto siape?  pacar  ye?
Anak          : (kaget & buru2 ngumpetin BB) Apa'an siy, Nyak... kagak...
Enyak        : Yaelah, mana tuh katanya lo mau ngenalin Si Putra... Putra siape  tuh namanye?
Anak          : Kagak... belom... 'ntar!
Enyak       : Awas ye... kalo sampe lo kagak jadi ngenalin pacar lo, Enyak buang-buangin tuh kelinci-kelinci lo!
Anak          :  Iiih, Enyak... jahat banget. Mereka itu udah kayak keluarga sendiri. Udah kayak anak!
Enyak        : Eeeh! mau ‘ampe kapan lo kayak gini? udah waktunya lo miara anak beneran!
Anak       : Yaah, Enyak. Anak benerannya entaran aja. Kalo miara kelinci-kelinci itu buat belajar! (langsung nyelonong pergi)

Oke, jadi intinya. Gue  ngebolak-balikin sama kasus gue sendiri. Dimana bokap  sama nyokap gue akhir-akhir ini rada ketar-ketir sama orientasi seksual gue. Padahal udah di pastikan kl gue normal & gue suka cowo. Tapi bokap gue  rada ragu soalnya rumah gue sepi penggemar. Paling-paling  yang sering datang ke rumah cuman abang pengantar air galon, abang pengantar gas elpiji, abang  yang  sering  ngecek  meteran listrik, dan abang penjual pempek yang demen ngetem di depan rumah gue setiap sore gara2 pempek itu kudapan favorit gue.

Nah, kasus gue ini nggak jauh-jauh amat sama konflk FTV itu...

Gue emang udah tua (ngaku). Kebanyakan ngayal dan itu masalahnya... gue lebih demen sama cowo virtual di banding sama cowo 3D alias nyata. Gue Nijigen Complex dan ciri-ciri di atas itu rasanya memenuhi kriteria gue banget. Tapi nggak akut kok... soalnya gue masih bisa nyebut kalau Takeru Sato itu ganteng... pake bingiiittt!!!

Gue suka bikin gambar. Gambar apa aja! salah satunya ini nih contohnya... 

art by Jeje


Akhir-akhir ini penyakit gue  ngegambar makin parah. Biasanya itu terjadi kalau otak gue lagi kepenuhan dan stress melanda jiwa. Biasanya, semakin bagus gambaran gue, itu menandakan semakin parah tingkat stress gue. Karena gue menuntut agar otak gue mau bekerja dan fokus untuk membuat detil. Biarpun nggak bagus-bagus banget kayak pelukis pro, tapi gue udah cukup puas dengan sketsa yang gue gambar sendiri. Biasanya sih satu beban sudah hilang dan konsentrasi gue  sama kerjaan bisa balik lagi.

Beberapa gambar-gambar yang numpuk dan cuma bikin penuh lemari akhirnya gue keluarkan dan gue tempel dimana-mana. Bahkan sampai di pintu-pintu.

Kemarin subuh Enyak gue ngadain acara sweeping  'dunia atas'. Dia terpaku di depan kamar gue. Enyak gue pikir kalau gue belum bangun. Padahal aslinya gue udah merhatiin Enyak gue di dalam kegelapan  dan ngelihat Enyak gue dari balik jendela kamar. 

art by Jeje


Enyak gue nanya, "ini manusia beneran?"

Gue cuma bisa ngangguk sambil garuk-garuk kepala. "Itu temen!"

Enyak gue angguk-angguk kepala doang. "Oke, dia laki, kan?"

Gue langsung  neguk ludah. Berasa sakit... masalahnya itu bukan laki... itu temen gue yang paling... wuahhh!!!

"Temen-temen kamu tuh sebenernya ganteng-ganteng. Tapi kenapa kamu malah jomblo sepanjang abad kayak gini?"

"Apa sih, Enyak pagi-pagi udah ngomongin soal maksiat!"

Enyak gue mendelik. "Maksiat apa maksudnya?"

"Maksudnya aku disuruh nyari pacar, kan? pacaran kan maksiat, Nyak. Mending pacaran sama dia aja!" kata gue sambil nunjuk gambar di layar leptop yang masih nyala. Gue punya kebiasaan buruk yang susah di rubah selama dua tahun belakangan ini, yaitu ONLINE. Bangun tidur kudu online, sampai mau tidur kudu ngelihat leptop. Kalau sampai nggak lihat 'pacar mati' gue itu hidup, stress gue bisa meningkat sepuluh kali lipat. 



Beberapa bulan belakangan ini gue jatuh cinta sama cowok di atas itu, tepatnya sih udah sejak tahun kemarin. Namanya Yoshida Haru. Terserahlah ya kalau ada yang ngatain gue sakit jiwa, tapi kenyataan kalau gue pengidap Nijigen complek nggak bisa di bantah.

Khayalan gue: kalau gue bisa masuk ke dunia virtual, mungkin gue bakal milih jadi salah satu karakter di dalam anime Tonari No Kaibutsu Kun. Terserahlah gue jadi karakter siapa atau yang mana, tapi yang jelas, gue  dapet bagian pacaran sama Haru. Soalnya gue punya romansa tak terkatakan sama Haru... wes lah, gue makin ngaco parah ini... abaikan!

Intinya, waktu itu enyak gue bilang kalau dia bakal buang-buangin semua sketsa-sketsa gue dan menyita leptop gue kalau sampai gue nggak bisa fokus menyusun peta kehidupan. Dimana ada target dengan usia yang udah di patok sama Enyak gue buat nikah (yang narget Enyak gue). Kalau sampai gue nggak buruan dapet Pangeran berkuda putih yang kebetulan apes jadi jodoh gue, maka enyak gue bakal nyari jodoh buat gue. Kalau perlu pakai sayembara!

Gue nggak bisa bayangin gimana bunyi woro-woro pencarian jodoh yang di bikin sama Enyak gue. Mungkin kurang lebihnya bakal kayak gini:

Nong... nong... nong... nong...!!! (ceritanya Enyak gue nabuh gamelan buat narik simpati laki-laki berkuda sial... eh salah... maksud gue berkuda putih yang sial.

“Woro-woro, di umumkan pada khalayak luas. Dicari: Kususnya bagi laki-laki yang memiliki usia di bawah tiga puluh tahun, masih jomblo dan belum pernah menikah alias bujang. Ganteng. Pinter masak. Pinter ngerawat tanaman. Pinter betulin genteng. Pinter nyervis kendaraan dan nyervis istrinya kelak. Jantan. Nggak ngondek. Jago berantem, tapi bukan berantem sama istrinya apalagi sama anaknya kelak. Nggak cerewet. Nggak banyak maunya. Pengertian. Romantis, mapan dan suka menabung.... sayembara ini di buka untuk umum. Bagi yang memiliki kriteria di atas... silakan langsung ambil formulir pendaftarannya di pos terdekat. GRATIS!” 

Oke, abaikan. Itu sekilat khayalan gue yang ngaconya makin runyam. Tapi kalau di pikir-pikir, dari kriteria di atas, gue jadi ragu... itu nyari suami model gimana ya? Chef? Montir? atau tukang pukul? Chef yang bisa jadi montir atau montir yang jago masak? atau orang yang profesinya jadi Montir kalau pagi, jadi Chef pas siang hari, dan pas malem hari jadi tukang pukul di arena tinju jalanan?

Jadi, ceritanya ga jauh beda sama dialog FTV yang ada di atas. Gue itu pacaran sama cowok virtual bukan tanpa alasan, gue sekarang lagi pacaran sama YOSHIDA HARU itu buat belajar... hehehe...

Belajar gila!

Hehe... nggak sih... gue belajar menyayangi sesuatu yang tidak bisa gue jangkau. Lebih tepatnya, sesuatu yang belum bisa gue jangkau atau belum nyata ada di depan mata gue. Kayak jodoh kan gitu... dia nggak tampak, tapi selalu kita inginkan kehadirannya.

Jielah... gue mulai lagi sok tua. Tapi tua yang nggak pernah inget umur... hihihiiiii....

Tapi gue menikmatinya... maksud gue... menikmati Nijigen Complex

HIDUP NIJIKON!!!