Sunday, April 6, 2014

Ispirate: AKU DALAM SEBUAH NAMA

Ispirate


 AKU DALAM SEBUAH NAMA

Namanya Vitamin C. Aku memanggilnya seperti itu. Dia teman satu kelas dan pendiamnya lebih parah daripada patung Selamat Datang Jakarta.
Kami mahasiswa fakultas hukum dan sedang duduk di semester satu.
Namanya Vitamin C. Aku lebih suka memanggilnya seperti itu. Dia tampan dan mirip seperti aktor Taiwan sekaligus member boyband Fahrenheit, Wu Chun. Saking tampannya, aku sampai tidak bisa berkutik saat memandangnya. Duniaku teralihkan seperti jargon iklan sabun wajah. 


Vitamin C, begitu aku memanggilnya. Dia tidak sama seperti teman-temanku yang lain. Meskipun pendiam, itu hanya kesannya saja. Sebenarnya dia cukup supel dan bisa berteman dengan siapa saja. Tapi sepertinya, dunia diam itulah yang membuatnya lebih suka untuk dia tinggali. Daripada harus ngerumpi atau mengobrol dengan teman se-geng yang notabene membicarakan masalah yang sama. Hukum, Politik, Negara dan Pemerintahan.
Teman Vitamin C di kelas hanya beberapa yang dekat dengannya. Sedangkan aku, aku seperti memiliki anak buah yang siap digiring kemana-mana. Hitung-hitung, menikmati masa muda dan menikmati indahnya hidup menjadi Mahasiswa tingkat pertama. Entah ada berapa anak yang merasakan bangga ketika bisa duduk di bangku kuliah selain aku. Mungkin tidak satu, tapi banyak.
Vitamin C tidak sepertiku atau seperti anak-anak lain yang sedang duduk di bangku kuliah. Ada satu fakta yang membuatku kaget. Ternyata dia adalah mahasiswa yang sedang ngulang ke tingkat awal lagi gara-gara banyak nilainya yang berantakan. Seorang kakak dari semester lima memberitahuku jika dia bukan hanya mengulang. Tapi kembali. Dua tahun yang lalu, Vitamin C sudah menjalani kuliahnya hingga semester empat. Tapi banyak nilainya yang tidak lulus. Akhirnya dia keluar. Tapi satu tahun kemudian, dia kembali dengan status mahasiswa baru. Sama sepertiku dan yang lainnya di tingkat pertama.
Wu Chun, maksudku Vitamin C. Banyak di kenal dosen. Terutama ketika mata kuliah Bahasa Belanda. Dosen kami sering menggunakan Vitamin C sebagai ‘alat peraga’. Dia akan di suruh maju ke depan untuk mengajarkan kepada kamu bagaimana cara membunyikan huruf ‘U’ dalam Bahasa Belanda.
Dimataku, Vitamin C sangat luar biasa. Super keren dan beda dari yang lain. Sering aku mengaguminya secara terbuka di depan gengku. Bahkan aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagumku ketika melihatnya. Teman-temanku bilang, mataku tidak bisa berbohong. Mataku akan terlihat menyala ketika Vitamin C lewat di depan hidungku, ketika dia duduk di seberangku, ketika dia menolehku, ketika dia menyapaku atau ketika mengutarakan pendapat, juga pertanyaannya ketika kami sedang presentasi makalah.
Dia selalu bertanya. Dimataku, dia terlihat cerdas. Sekaligus tampan. Apapun yang di milikinya, dari kepala hingga ujung kaki, aku menyukainya. Dia tipe yang sempurna untuk didapatkan. Akan sangat bodoh jika di sia-siakan.
Aku sering iri pada teman-teman cewek yang ada di sekelilingnya. Meskipun tidak banyak dan hanya dua ekor. Tapi mereka sangat dekat dengan Vitamin C. Aku cemburu ketika dia bisa tertawa bersama dengan mereka. Bahkan aku sering bermimpi, kapan akan datang masanya  aku bisa tertawa bersamanya, bersenda gurau atau berbincang dengan sangat akrab. Meskipun aku tidak pernah mengharapkan lebih, tapi saat itu rasa kagumku berubah dengan sendirinya menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Hingga tersematlah sebutan Vitamin C untuknya.
Aku sering merasa lemas ketika tidak bisa memandangnya barang satu hari saja. Seperti orang kekurangan asupan nutrisi.

***

Pelan namun pasti, aku membiasakan diri tidak hidup dari semangat melihat Vitamin C. Meskipun hidupku seperti orang kekurangan suplemen. Layu.
Hingga detik terakhir aku berada di semsester satu, hanya tiga kali aku mendengarnya bertanya padaku. Pertama, ketika aku presentassi makalah. Kedua, ketika dia bertanya mengapa aku memiliki binder yang sangat unik—tiga dimensi. Ketiga, ketika dia memanggilku dengan nama lain.
Awalnya, aku tidak menyadari ketika dia memanggilku dengan nama Heni. Aku pikir dia sengaja melakukannya untuk menyebutku sebagai ‘panggilan sayang’. tapi ternyata, aku baru tahu kalau dia benar-benar tidak tahu namaku ketika kami sudah sama-sama duduk di semester enam.
Dia tidak mengetahui namaku. Teman sekelasnya dari semester satu. Orang yang mengagumi dia. Manusia yang selalu di ajukan pertanyaan ketika presentasi makalah. Aku tidak percaya. Dia benar-benar menyebutku dengan nama lain lantaran tidak pernah tahu namaku.

***

Semester enam itu datang. Aku duduk di reguler malam sudah sejak semester dua lantaran pekerjaan. Sedangkan dia baru pindah ke reguler  malam juga lantaran dia harus bekerja paruh waktu. Hanya saja, kami berbeda kelas. Aku duduk di Claster Pidana. Sedangkan dia ada di Claster Perdata.
Dia mengetahuiku. Dia sering menyapaku ketika kami tidak sengaja berpapasan di koridor kelas. Aku sering mengobrol bersamanya meskipun hanya lima menit. Aku tidak tahu, apakah dia bisa merasakan betapa aku bahagia ketika bisa berbincang dengannya. Seperti gadis kecil yang baru memahami cinta monyet. Aku seperti itu. Puber tidak jelas.
Aku mengobral cerita tentang rasa kagumku pada beberapa teman di kelas. Mereka sering mengataiku dengan sebutan ‘nenek-nenek genit’. Tapi mau bagaimana lagi, rasa kagum dan mataku benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.
Setiap kali kami berpapasan. Setiap kali kami bertemu, aku selalu menuliskan prosa  yang menceritakan detik-detik menegangkan itu kedalam buku diary.
Semakin hari pertemuan kami semakin sering. Aku merasa sedang menjadi manusia paling bahagia di seluruh lapisan Bumi ini. Tapi kebahagiaan itu mendadak musnah begitu aku memastikan kenyataan itu. Namaku.
Dulu aku tidak pernah suka ketika beberapa temanku mengatakan kalau Vitamin C itu aslinya bodoh. Dia tidak seperti kelihatannya. Dia tidak sepintar pertanyaannya ketika debat makalah. Fakta lain yang di temukan temanku adalah, Vitamin C selalu mencari pertanyaan melalui Mbah Google, bukan hasil pemikirannya sendiri. Itu sebabnya pertanyaannya jadi terlihat cerdas dan mantap. Padahal sebelum dia, sudah ada manusia lain yang membuat pertanyaan yang dia utarakan.
Ketika itu, aku membela Vitamin C. Terlepas dari rasa kagumku padanya. Aku juga tidak menyukai cara teman-temanku yang tadinya kecewa padanya, tidak menyukainya dan berujung pada mengolok-olok nama Vitamin C di belakang orangnya. Bagiku, yang seperti itu sama sekali tidak sportif. Aku membela Vitamin C dengan mengatakan kepada mereka, bahwa kita juga tidak sepintar kelihatannya. kita adalah sama. Kita pintar membuat taktik dengan menyusun setiap paragraf demi paragraf melalui tombol copy paste. Sedangkan dia juga sama. Menyadur. Sumbernya juga sama: Google.
Sekarang, semua kelihatan menjadi sangat terang. Setelah dua hari lalu dia meminta nomor teleponku dan aku memberikannya plus dengan menuliskan namaku sejelas-jelasnya. Tadinya aku merasa senang dan berharap dia akan menghubungiku. Tapi kenyataannya, dia baru melakukan kontak SMS setelah tiga hari kemudian. Tepatnya siang hari. Dia memintaku untuk membawakan beberapa buku materi untuk dia pinjam. Aku maklum, dia selalu telat saat ke kampus. Aku rasa dia juga sering telat mengikuti kuliah.
Namun rasanya bukan hanya persoalan telat. Ada hal lain yang membuatku merasa sangat sensitif. Setelah aku menuliskan namaku di handphonenya yang mahal dan keluaran terbaru, dia masih tetap menyebutku dengan nama yang sama seperti dulu: Heni. Kalaupun beda, dia menyebutku dengan nama yang lainnya: Eli. Kalaupun ada nama lainnya lagi: Eri. Padahal namaku: JENI.
Aku tidak tahu apa masalah Vitamin C dalam menyebutku. Mungkin dia merasa nama JENI tidak cocok di sematkan dalam diriku. Mungkin juga salah satu pacarnya ada yang memiliki nama itu. Aku hanya menduga-duga saja. Tapi yang jelas, orang yang aku kagumi benar-benar sangat mengecewakan. Aku tidak tahu kalau dia bisa mengalami disleksia dalam memahami nama orang. Yang jelas, aku tidak pernah bertanya padanya mengapa dia sering memanggilku dengan nama yang berbeda-beda. Atau mungkin dia sedang melakukan manuver untuk mencoba nama apa yang cocok di tempel di jidatku.
“Hen, Heni! Hen!!”
Dia pernah memanggilku dengan nama itu ketika aku akan pulang kuliah. Di parkiran depan gedung Pasca, aku menoleh ke arahnya yang sedang duduk bersama dengan salah seorang teman sekelasnya. Cewek. Entah kenapa, aku sudah tidak cemburu lagi. Malah bersisa rasa jengkel.
“Mau pulang?” tanyanya.
Aku mengangguk. Ketertarikanku padanya sudah lenyap. “Iya.” Aku tetap berusaha ramah. Bagaimanapun, aku bukan makhluk yang super tega untuk mengacuhkannya. Meskipun dia sudah membuatku jengkel dengan memanggilku yang bukan namaku. Padahal akan lebih baik kalau dia memanggilku dengan nama julukan saja: JEJE.
“Oh!” bibirnya membentuk huruf ‘O’. “Ati-ati!”
Sudah, hanya begitu saja. Itu menjadi basa-basi terakhir yang aku terima darinya. Seiring berjalannya waktu, aku sudah  jarang dan hampir tidak pernah bertemu dengannya lagi. Jika bertemu sekalipun, dia sudah tidak pernah lagi menolehkan wajahnya ke arahku. Aku tidak tahu apa masalahnya denganku. Tapi yang jelas, aku mendiamkannya.

***

Vitamin C hanya contoh kecil dari kesekian orang yang memiliki masalah yang hampir serupa dengan namaku. Dia memang bukan yang pertama bermasalah dengan namaku, tapi dia yang paling parah di antara yang sudah-sudah. Aku tidak tahu apa masalah mereka. Tapi mereka hampir selalu menayakan hal yang sama: APA ARTI DARI NAMAMU?
Aku sendiri tidak tahu apa artiku dalam sebuah nama. Aku tidak pernah tahu apa arti namaku. Bahkan aku tidak tahu bagaimana sejarahnya hingga nama itu tersemat dalam akta kelahiranku. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa Bapak menemukan namaku, karena Bapak sendiri tidak bisa menjawabnya. Cukup aneh memang.
Lama aku meragukan namaku. Hingga beberapa menit lalu aku menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan. Aku menemukan satu fakta tentang namaku.
Tanpa sengaja aku menemukan sebuah foto yang di gunting kecil. Ketika aku mengambil dan mengamatinya, aku baru sadar kalau gadis kecil dengan kebaya dan konde sebesar semangka di kepalanya itu adalah aku. Itu adalah aku ketika TK dulu. Aku berdandan ala putri keraton dan dinaikkan di atas kereta kencana yang ditarik oleh kuda. Sedikit lucu melihat foto itu, dulu nenek bilang kalau saat itu aku sedang menjadi Putri Solo. Tapi setelah aku perhatikan lagi, aku lebih mirip dengan Mbok Emban.
Di balik foto itu, aku menemukan sebuah bukti yang sangat mengejutkan. Bahkan jantungku masih berdetak sangat kencang hingga saat ini. Tanganku tidak bisa berhenti gemetaran. Aku terlalu senang, sekaligus terharu. Mataku panas dan aku ingin menangis.
Foto itu kutunjukkan pada Ibu. Ku perlihatkan padanya sebuah tulisan empat karakter kata di balik foto itu. Disana tertulis: JENI AMELIA IKA WULANDARI.
“Apa artinya itu, Bu?” tanyaku seolah menuntut jawaban secepatnya.
Ibu tersenyum sekilas, lalu meletakkan foto itu di atas meja riasnya. “Itu nama kamu dulu. Aslinya nama kamu ya itu. Aku memberimu nama IKA WULANDARI. Panggilannya ANDARI. Aku bahkan ingin membaliknya menjadi WULANDARA agar aku bisa memanggilmu ANDARA. Tapi sayang, Bapakmu nggak setuju. Waktu itu kami berdebat. Tapi kesepakatan nama empat karakter itu kami pegang. Namun ternyata nenekmu dari Bapakmu nggak setuju, alasannya nama itu terlalu panjang dan nanti malah bingung mau panggil apa. Tapi aku tetap kekeuh dengan nama alternatifku. Akan tetapi setelah di buatkan surat kelahiran, namamu jadi dua karakter saja. JENI AMELIA. Nama pemberian Bapakmu.”
Penjelasan yang cukup simple dan biasa. Tapi bagiku berdampak sangat besar. Aku tidak akan menanyakan apa arti dari namaku yang sudah tertulis di surat kelahiran kala itu. Karena Ibu pun jelas tidak tahu apa  arti dari namaku. Tidak satupun dari mereka yang tahu apa arti JENI dan apa arti AMEL.
“IKA WULANDARI itu artinya apa, Bu?” tanyaku iseng.
“IKA itu dari EKA. EKA, EKO adalah nama untuk anak pertama. Sedangkan WULANDARI itu karena kamu lahir mendekati akhir bulan. WULAN artinya BULAN.”


Hatiku langsung membuncah. Hidungku kembang kempis. Entah kenapa, aku merasa sangat bahagia. Mungkin karena aku sebenarnya memiliki nama lain yang punya arti. Meskipun arti yang tidak terlalu bagus, tapi setidaknya nama itu ada artinya. Karena semenjak aku menyadari kalau namaku sulit di temukan artinya, aku jadi sedikit jengkel dengan William Shakespeare yang mengucap syair andalannya, bahkan terkutip dalam film Titanic: “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” 
Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia akan tetap harum baunya.


Mungkin hanya aku yang blingsatan memikirkan apa arti namaku di antara triliunan umat yang ada di seluruh dunia. Sebagian besar dari mereka yang hidup mungkin tidak akan pernah berpikir tentang nama mereka. Bahkan jika mereka tidak bernama sekalipun, mereka tetap tidak akan peduli.
Namun tidak denganku. Aku mulai memikirkan arti namaku sejak SMA. Ketika Guru Sastraku bertanya apa arti namaku. Aku tidak bisa menjawab. Bahkan mengarang kebohongan saja aku tak sanggup. Sedangkan seluruh teman sekelaskupun, bahkan yang hanya memiliki satu karakter nama saja memiliki arti didalamnya. Sedangkan aku?
Aku sudah bertanya pada Bapak, tapi dia tidak tahu. Aku tidak mungkin bertanya pada Ibu, karena bukan dia yang memberiku nama. Sejak saat itu, aku selalu berusaha mengganti namaku. Akan lebih baik jika aku menyematkan sebuah julukan saja daripada harus nama lengkap tapi tidak ada artinya.
Ketika aku menyuruh semua teman-teman baruku memanggilku dengan ‘JEJE’, entah kenapa aku merasa lebih baik. Ketika mereka bertanya kenapa, aku cukup mengatakan alasan dasar saja, karena namaku adalah JENI. JENI AMELIA.
Seiring berjalannya waktu, aku berpikir satu hal lagi tentang namaku agar memiliki arti. Aku mulai membentuk namaku sendiri agar dia memiliki arti. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan sampai bertahun-tahun aku memikirkan sebuah nama yang memiliki arti, hingga tercapailah pada satu kesepakatan nama.
Aku memutuskan untuk membuat nama JENI SUHADI. Ketika aku membuat nama itu, duniaku seperti gempar mendadak. Semua teman-teman yang mengenalku langsung beramai-ramai bertanya padaku. Dan inti pertanyaan mereka selalu sama.
“Siapa SUHADI? Suamimu? Kapan kamu nikah?”
Aku terkekeh. Sebenarnya aku sedang menertawakan diri sendiri. Bukan mereka. Aku sedang merayakan kebahagiaanku memiliki nama baru. Karena akhirnya aku akan bisa menjawab. Meskipun dengan arti yang sangat sederhana sekalipun.
“JENI itu namaku. Sedangkan SUHADI itu nama Bapakku. Jadi artinya, Jeni itu adalah anaknya Bapak Suhadi.”
Teman-temanku banyak yang langsung mengeluh. Ada juga yang tertawa. Ada lagi yang mencibir. Mereka membuat ekspresi masing-masing. Tapi sebagian dari mereka tetap memanggilku dengan dengan nama panggilan biasa, ‘JEJE’. Aku rasa itu lebih aman.
Sekarang, setelah mengetahui satu fakta jika aku memiliki nama lain, yaitu IKA WULANDARI. Aku merasa namaku bertambah lagi. Bahkan beberapa detik lalu aku berpikir, andai saja ada yang memanggilku dengan nama BULAN karena arti dari WULAN itu sendiri. Membayangkannya saja, aku langsung geli. Mungkin tidak akan cocok.
Aku pun akhirnya menyadari sesuatu. Bahwa nama memang hanyalah nama. Shakespeare memang tidak keliru. Dia membuat sebuah perumpamaan yang cerdas. Seperti halnya mawar, jika namanya bukan mawar sekalipun, dia masih  tetap akan harum baunya. Begitupula denganku, meskipun namaku bukan JENI AMELIA IKA WULANDARI, tetap saja aku adalah aku. Tapi apalah artiku tanpa sebuah nama? Apalagi keliru nama? Siapa aku jika aku bukanlah JENI SUHADI atau IKA WULANDARI?
Shakespeare memang tidak sedang mempersoalkan arti sebuah nama. Ia sedang mengajak pembacanya merenungkan esensi, keaslian, atau hakikat sebuah materi, apapun namanya. Mungkin jika Shakespeare hidup di tahun over Milenia saat ini, dia akan sangat kaget melihat begitu banyak pemilik nama yang merubah namanya sesuai dengan keinginan masing-masing, bahkan terkadang di personifikasi. Seperti halnya denganku.
Akan tetapi, jika mengingat syair Shakespare, aku tidak bisa membayangkan jika mawar yang saat itu belum memiliki nama, lalu di ketemukan oleh Sir Stamford Raffles  dan Dr. Joseph Arnold . Aku rasa namanya akan berubah menjadi Raflesia Arnoldi. Apakah orang akan tetap berangkat memetiknya? Apakah orang akan beramai-ramai memujanya?
Mungkin itu juga yang ingin dilakukan Vitamin C padaku, dia ingin menamaiku dengan nama yang lain.
Bahkan Tuhan-pun menyuruh Adam beserta anak-cucunya untuk memberi nama benda-benda untuk menunjukkan kecerdasan mereka.
Aku sedang menunjukkan pada dunia tentang kecerdasanku untuk memilih nama dengan arti yang benar.


-----END-----


Sunday, March 16, 2014

NIJIKON? YES I AM

Cerita Ngaco 

NIJIKON? 
YES I AM


Nijikon (二次コン) adalah istilah slang dalam bahasa Jepang yang digunakan untuk merujuk orang yang hanya tertarik atau terobsesi dengan wujud dua dimensional berupa karakter anime, manga, dan permainan video, yang umumnya dipresentasikan di atas kertas atau layar, beserta figur boneka dari karakter tersebut.

Istilah ini merupakan singkatan dari istilah Nijigen kompurekkusu (二次元コンプ レックス ) biasa di kenal dengan sebutan  Nijigen Complex. 

Ciri-ciri (yang bisa terlihat) seorang Nijikon stadium menengah ke atas adalah sebagai berikut:
1. Mengaku istri pada salah satu tokoh anime/ manga. Atau 'poligami' dengan membuat semacam harem terhadap beberapa tokoh anime/manga (hal seperti ini biasanya ditemukan di forum- forum anime/manga).

2. Cenderung kurang berselera atau bahkan tidak tertarik apabila 'ditawari' Cewe 3D (Cewe real, Red.). Sebagian dari mereka bahkan mengaku hanya menyukai Cewe 2D (Cewe dalam anime/manga, Red.).

3. Rela menghabiskan uangnya untuk membeli merchandise yang berkaitan dengan tokoh anime favoritnya tersebut, biasanya yang dibeli adalah figurine, poster, manga/komik, artbook, t-shirt, dsb.

4. Menghabiskan waktunya untuk menonton anime, membaca manga, atau memainkan game-game bishoujo/dating-sim/hentai;
cenderung kurang bersosialisasi di dunia real (hikkikomori). Kalaupun bersosialisasi mungkin hanya sekitar penggemar anime/manga saja, atau dengan orang-orang yang satu minat dengannya.


5. Biasanya masih jomblo.

Gue jadi punya ide  untuk memperbaiki sakit jiwa, gara-gara  ngutip dialod di FTV barusan yang judulnya CINTA BERTEMU DI KANDANG KELINCI. Ceritanya ini set  antara Enyak sama anak. Ceritanya, si  anak  di paksa buat cepet-cepet  nyari pasangan, tp dia  lbh suka memelihara kelinci soalnya udah kayak keluarga sendiri.  Sedangkan enyaknya udah nyiapin jodoh buat anaknya kl dia ga bisa dapet jodoh  ‘ndiri. Selain itu, Enyaknya jg ngancem bakal buang semua kelinci-kelinci piaraan anaknya kalau sampe anaknya ga buruan dapet  jodoh.

Dialog terjadi di ruang tamu.

Si Enyak nyamperin anaknya yg lagi mandangin BB-nya, didalam BB itu terdapat banyak banget foto cowo yg lg naksir si anak tp Si anak malah ga suka & menganggap cowo itu temen doang. 

Enyak        : Ciiieeehhh... ngelihatin foto siape?  pacar  ye?
Anak          : (kaget & buru2 ngumpetin BB) Apa'an siy, Nyak... kagak...
Enyak        : Yaelah, mana tuh katanya lo mau ngenalin Si Putra... Putra siape  tuh namanye?
Anak          : Kagak... belom... 'ntar!
Enyak       : Awas ye... kalo sampe lo kagak jadi ngenalin pacar lo, Enyak buang-buangin tuh kelinci-kelinci lo!
Anak          :  Iiih, Enyak... jahat banget. Mereka itu udah kayak keluarga sendiri. Udah kayak anak!
Enyak        : Eeeh! mau ‘ampe kapan lo kayak gini? udah waktunya lo miara anak beneran!
Anak       : Yaah, Enyak. Anak benerannya entaran aja. Kalo miara kelinci-kelinci itu buat belajar! (langsung nyelonong pergi)

Oke, jadi intinya. Gue  ngebolak-balikin sama kasus gue sendiri. Dimana bokap  sama nyokap gue akhir-akhir ini rada ketar-ketir sama orientasi seksual gue. Padahal udah di pastikan kl gue normal & gue suka cowo. Tapi bokap gue  rada ragu soalnya rumah gue sepi penggemar. Paling-paling  yang sering datang ke rumah cuman abang pengantar air galon, abang pengantar gas elpiji, abang  yang  sering  ngecek  meteran listrik, dan abang penjual pempek yang demen ngetem di depan rumah gue setiap sore gara2 pempek itu kudapan favorit gue.

Nah, kasus gue ini nggak jauh-jauh amat sama konflk FTV itu...

Gue emang udah tua (ngaku). Kebanyakan ngayal dan itu masalahnya... gue lebih demen sama cowo virtual di banding sama cowo 3D alias nyata. Gue Nijigen Complex dan ciri-ciri di atas itu rasanya memenuhi kriteria gue banget. Tapi nggak akut kok... soalnya gue masih bisa nyebut kalau Takeru Sato itu ganteng... pake bingiiittt!!!

Gue suka bikin gambar. Gambar apa aja! salah satunya ini nih contohnya... 

art by Jeje


Akhir-akhir ini penyakit gue  ngegambar makin parah. Biasanya itu terjadi kalau otak gue lagi kepenuhan dan stress melanda jiwa. Biasanya, semakin bagus gambaran gue, itu menandakan semakin parah tingkat stress gue. Karena gue menuntut agar otak gue mau bekerja dan fokus untuk membuat detil. Biarpun nggak bagus-bagus banget kayak pelukis pro, tapi gue udah cukup puas dengan sketsa yang gue gambar sendiri. Biasanya sih satu beban sudah hilang dan konsentrasi gue  sama kerjaan bisa balik lagi.

Beberapa gambar-gambar yang numpuk dan cuma bikin penuh lemari akhirnya gue keluarkan dan gue tempel dimana-mana. Bahkan sampai di pintu-pintu.

Kemarin subuh Enyak gue ngadain acara sweeping  'dunia atas'. Dia terpaku di depan kamar gue. Enyak gue pikir kalau gue belum bangun. Padahal aslinya gue udah merhatiin Enyak gue di dalam kegelapan  dan ngelihat Enyak gue dari balik jendela kamar. 

art by Jeje


Enyak gue nanya, "ini manusia beneran?"

Gue cuma bisa ngangguk sambil garuk-garuk kepala. "Itu temen!"

Enyak gue angguk-angguk kepala doang. "Oke, dia laki, kan?"

Gue langsung  neguk ludah. Berasa sakit... masalahnya itu bukan laki... itu temen gue yang paling... wuahhh!!!

"Temen-temen kamu tuh sebenernya ganteng-ganteng. Tapi kenapa kamu malah jomblo sepanjang abad kayak gini?"

"Apa sih, Enyak pagi-pagi udah ngomongin soal maksiat!"

Enyak gue mendelik. "Maksiat apa maksudnya?"

"Maksudnya aku disuruh nyari pacar, kan? pacaran kan maksiat, Nyak. Mending pacaran sama dia aja!" kata gue sambil nunjuk gambar di layar leptop yang masih nyala. Gue punya kebiasaan buruk yang susah di rubah selama dua tahun belakangan ini, yaitu ONLINE. Bangun tidur kudu online, sampai mau tidur kudu ngelihat leptop. Kalau sampai nggak lihat 'pacar mati' gue itu hidup, stress gue bisa meningkat sepuluh kali lipat. 



Beberapa bulan belakangan ini gue jatuh cinta sama cowok di atas itu, tepatnya sih udah sejak tahun kemarin. Namanya Yoshida Haru. Terserahlah ya kalau ada yang ngatain gue sakit jiwa, tapi kenyataan kalau gue pengidap Nijigen complek nggak bisa di bantah.

Khayalan gue: kalau gue bisa masuk ke dunia virtual, mungkin gue bakal milih jadi salah satu karakter di dalam anime Tonari No Kaibutsu Kun. Terserahlah gue jadi karakter siapa atau yang mana, tapi yang jelas, gue  dapet bagian pacaran sama Haru. Soalnya gue punya romansa tak terkatakan sama Haru... wes lah, gue makin ngaco parah ini... abaikan!

Intinya, waktu itu enyak gue bilang kalau dia bakal buang-buangin semua sketsa-sketsa gue dan menyita leptop gue kalau sampai gue nggak bisa fokus menyusun peta kehidupan. Dimana ada target dengan usia yang udah di patok sama Enyak gue buat nikah (yang narget Enyak gue). Kalau sampai gue nggak buruan dapet Pangeran berkuda putih yang kebetulan apes jadi jodoh gue, maka enyak gue bakal nyari jodoh buat gue. Kalau perlu pakai sayembara!

Gue nggak bisa bayangin gimana bunyi woro-woro pencarian jodoh yang di bikin sama Enyak gue. Mungkin kurang lebihnya bakal kayak gini:

Nong... nong... nong... nong...!!! (ceritanya Enyak gue nabuh gamelan buat narik simpati laki-laki berkuda sial... eh salah... maksud gue berkuda putih yang sial.

“Woro-woro, di umumkan pada khalayak luas. Dicari: Kususnya bagi laki-laki yang memiliki usia di bawah tiga puluh tahun, masih jomblo dan belum pernah menikah alias bujang. Ganteng. Pinter masak. Pinter ngerawat tanaman. Pinter betulin genteng. Pinter nyervis kendaraan dan nyervis istrinya kelak. Jantan. Nggak ngondek. Jago berantem, tapi bukan berantem sama istrinya apalagi sama anaknya kelak. Nggak cerewet. Nggak banyak maunya. Pengertian. Romantis, mapan dan suka menabung.... sayembara ini di buka untuk umum. Bagi yang memiliki kriteria di atas... silakan langsung ambil formulir pendaftarannya di pos terdekat. GRATIS!” 

Oke, abaikan. Itu sekilat khayalan gue yang ngaconya makin runyam. Tapi kalau di pikir-pikir, dari kriteria di atas, gue jadi ragu... itu nyari suami model gimana ya? Chef? Montir? atau tukang pukul? Chef yang bisa jadi montir atau montir yang jago masak? atau orang yang profesinya jadi Montir kalau pagi, jadi Chef pas siang hari, dan pas malem hari jadi tukang pukul di arena tinju jalanan?

Jadi, ceritanya ga jauh beda sama dialog FTV yang ada di atas. Gue itu pacaran sama cowok virtual bukan tanpa alasan, gue sekarang lagi pacaran sama YOSHIDA HARU itu buat belajar... hehehe...

Belajar gila!

Hehe... nggak sih... gue belajar menyayangi sesuatu yang tidak bisa gue jangkau. Lebih tepatnya, sesuatu yang belum bisa gue jangkau atau belum nyata ada di depan mata gue. Kayak jodoh kan gitu... dia nggak tampak, tapi selalu kita inginkan kehadirannya.

Jielah... gue mulai lagi sok tua. Tapi tua yang nggak pernah inget umur... hihihiiiii....

Tapi gue menikmatinya... maksud gue... menikmati Nijigen Complex

HIDUP NIJIKON!!!







Monday, January 13, 2014

Shuzuhana Yuko Ft Wagakki Band - Tsuki.Kage. Mai. Hana

Cerpen: DILARANG LEWAT DI HATI INI, SEDANG DALAM PERBAIKAN

Cerpen


DILARANG LEWAT DI HATI INI, SEDANG DALAM PERBAIKAN



Jodohmu adalah cerminan dirimu. Jika dia masih dalam perbaikan diri, maka jodohmu juga pasti sama.

Sudah kuusahakan yang terbaik. Menjadi jodoh yang baik untuk calon jodohku. Tapi hingga usiaku mendekati tiga puluh tahun, jodoh itu masih belum datang juga. Hingga aku mati rasa.
Keluargaku sangat demokratis. Kecuali ayahku. Sejak usiaku masih dua puluh tahun, beliau selalu saja bertanya siapa pacarku, dia tinggal dimana, apa sukunya, bagaimana keluarganya, bagaimana akhlaknya. Tapi aku selalu melontarkan jawaban yang sama. Aku tak punya.
Ibuku tidak pernah bertanya apa-apa. Tentang jodoh atau tentang pacar. Hanya sesekali jika aku menyinggung tentang anak laki-laki tampan yang pernah aku temui, dia selalu saja bilang, “tapi nggak pernah ada yang kena!”
Aku hanya tersenyum saat Ibuku mengatakan hal yang sama. Karena memang nasibku selalu sama. Aku tidak pernah bisa menggaet laki-laki. Mungkin juga pesonaku sudah musnah di makan jaman. Aku bukan lagi Laila yang dulu. Laila yang ceria secara berlebihan. Suka mempermainkan laki-laki. Bahkan aku selalu membuat kesalahan. Merasa diri paling cantik dan populer. Tapi kini, aku tak bisa lagi merasa seperti itu. Aku sudah tua. Masih lajang.
Rasa percaya diriku sudah lenyap. Dilibas oleh perasaan yang selalu membuatku kesusahan melangkah ke masa depan. Laki-laki. Satu-satunya manusia yang sudah membuatku kehilangan akal ketika merindukannya setiap waktu. Melebihi Tuhanku.
Faruq namanya. Sembilan tahun lalu, aku mencintainya dan dia mencintaiku. Jika ada laki-laki terbaik di dunia ini, maka dialah salah satunya. Jika ada wanita terburuk di dunia ini, mungkin aku adalah salah satunya. Tapi pada akhirnya Tuhan memberikan dia padaku melalui do’a. Tapi mungkin juga melalui pandangan mata yang di kaburkan setan atas diriku.
Bukan waktu yang lama ketika aku bersamanya. Hanya tiga tahun dan semuanya menjadi hancur karena keburukan yang sudah ku ciptakan sendiri. Itu kesalahan pertama dan terakhir, mungkin yang terbesar. Ketika aku tak menyadari betapa cintanya sangat tulus untuk wanita sepertiku. Seseorang yang dia hormati dan hargai seperti Ibunya sendiri, ternyata sudah menghianatinya dengan keburukan.  Ada satu sisi diriku yang terus menggodaku untuk selingkuh dan membiarkan sebelah hatiku mencintai orang lain.
***
“Aku pergi.”
Matanya tidak menatapku. Aku juga tidak memandangnya. Mataku lebih sibuk menyembunyikan air mata yang terus saja mendobrak untuk keluar. Dia sedang pamitan untuk meninggalkanku mengejar cita-citanya. Juga pamit meninggalkanku yang sudah menyelingkuhinya. Perselingkuhanku terbongkar, dua hari lalu. Tapi dia tidak bicara apa-apa.
“Kalau aku bilang jangan pergi. Apa kau akan mendengarkanku?”
Kepalanya menggeleng. “Aku melakukan ini demi kita. Aku akan melakukan apapun demi masa depan kita. Cita-citaku akan terwujud dan aku akan melamarmu. Segera!”
Hatiku mengatakan lain meskipun kepalaku mengangguk. Naluriku mengatakan tidak yakin dengan apapun yang di katakannya. Sesuatu yang ku takutkan akhirnya terjadi. Dia meninggalkanku sebagai wujud penghukuman karena selama ini aku sudah menyakitinya.
“Maafkan aku,” kataku parau. Air mataku sudah meluncur keluar. Aku menyesal.
“Jangan menangis lagi. Aku mohon,” jempol tangannya mengusap air mataku. Tapi sia-sia. Air mataku terus keluar. Aku menangis tanpa bersuara. Seperti biasa.
“Aku harus pergi. Nanti kalau aku sudah di terima jadi Bintara, aku pasti mengunjungimu, oke?”
Hening. Kami terdiam. Hanya isak tangisku yang memenuhi ruangan kamar kos. Ada perasaan yang mengatakan padaku bahwa ini adalah air mataku yang terakhir.
“Aku nggak akan bikin kamu  nangis lagi. Aku janji. Jadi aku mohon, jangan pernah menangis lagi oleh sebab apapun.”
Aku juga tak akan memangis jika bukan karena penyesalan. Satu-satunya hal yang sangat kusesali, dia pergi. Meninggalkanku dengan cinta yang terlambat kusadari. Sebelumnya, aku memang mencintainya, tapi aku baru benar-benar sadar, bahwa cintaku tak biasa. Karena Faruq adalah laki-laki luar biasa.
Dia pergi. Akhirnya dia menginggalkanku dan tak menoleh kepadaku lagi. Bersama kepulan asap motor yang di kendarainnya, dia menghilang di dalam kegelapan malam. Tapi mataku terus memperhatikannya. Berharap yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk. Aku hanya mengigau. Tapi sayangnya aku salah. Karena dia tak pernah kembali lagi padaku. Itu kenyataannya.
***
“Bagaimana kalau aku menyukaimu?”
Kutatap baik-baik mata itu. Mata yang tulus dan penuh dengan kasih sayang. Terkadang aku ingin bercanda dengan Tuhan, untuk apa wanita egois dan menyebalkan sepertiku ini selalu mendapatkan kado berupa orang-orang yang selalu menyayangiku dengan sepenuh hati, sedangkan mereka tahu kalau aku tak mungkin bisa membalasnya. Tapi sayangnya, Tuhan tidak bercanda.
Rasanya seperti bermain catur dengan Tuhan. Ketika Tuhan memajukan bidak-bidaknya, aku selalu mengambil jalan yang asal dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Yang ku tahu hanya memakan bidak itu. Menyakiti prajurit-prajurit kiriman Tuhan.
Tuhan sedang mengujiku dengan bidak-bidak itu. Kelihatannya aku menang banyak karena aku bisa membantai habis semua pion-pionnya. Tapi kenyataannya, aku kalah telak. Karena aku tidak pernah bisa menguasai zona daerahku sendiri. Aku tak bisa menguasai diriku. Hingga akhirnya aku skakmatt. Aku kalah.
Edison, salah satu pengagumku. Kusebut begitu karena dia selalu menyanjungku dan memberikan apapun yang kubutuhkan. Tapi sayangnya, ketika dia menyatakan perasaannya padaku, aku malah menalikannya pada tiang gantungan. Membunuh perasaannya pelan-pelan. Dia pergi juga kemudian hari. Mendapatkan kekasih yang lebih baik dariku. Sama baik dengannya. Dia bukan yang pertama menyatakan perasaannya padaku. Masih banyak yang lain. Rio, Evan, Edo, Nay, dan Widi. Tapi nasib mereka selalu sama. Mereka menyerah.
Aku tahu, aku yang salah. Aku memperlakukan mereka seolah-olah seperti mayat hidup yang lewat dan tak berharga. Tidak peduli seberapa besar pengaruh mereka, harta mereka, bahkan tampang mereka. Aku selalu melakukan hal yang sama. Menyakitinya.
Ketika aku menginjak usia 25 tahun. Seperempat abad. Baru kusadari sekelilingku mulai menua dan berubah. Semua laki-laki yang dulu pernah begitu baik padaku dan memujaku lalu ku abaikan, kini mereka semua sudah memiliki keluarga. Bahkan anak. Mereka bahagia. Aku iri. Menurutku, mereka memujaku lalu menjatuhkanku dengan cara sedemikian rupa. Mereka menikah. Menemui pasangan. Bahagia. Sedangkan aku, masih seorang jomblo seperempat abad yang tidak pernah tahu apa yang harus di lakukan. Ganti mereka yang meremehkanku. Mengataiku perawan tua dan tak laku. Tapi apa mereka tahu sebab kenapa aku seperti ini?
***
Ku bekukan hati dan air mata. Menembok perasaan dengan ketegaran. Mengaburkan mata dari segala pesona yang kelihatannya sempurna. Semua hanya demi satu hati yang kuimpikan. Berharap ruangan kosong itu bisa kuhuni lagi didalamnya. Faruq. Hatiku hanya untuknya. Tanpa meminta lebih, aku masih tetap mencintainya. Dengan cinta luar biasa yang terlambat, kucoba terus bertahan.
Hingga ketika di usiaku yang kedua puluh sembilan tahun, tepatnya kemarin. Tepat jam dua belas malam. Setelah sekian tahun dia baru menghubungiku.
“Kamu ternyata belum juga berubah.”
Dengan kata-kata seperti itu, dia akan memulai pada klimaks percakapan. Aku tertegun. Tanganku tergenggam erat. Mencoba menahan diri. Jika tidak begitu, kami akan mulai bertengkar. Aku tidak ingin kami akan melakukan hal konyol seperti ABG labil lagi. Setelah sekian tahun dia masih ingat dengan hari ulang tahunku.
 “Kenapa kamu belum menikah?” tanyanya dengan tegas dan nada suaranya sudah berbeda sejak terakhir kali kami bicara. Sembilan tahun lalu. Aku tidak tahu, dia ingin segera mengakhiri percakapan atau ingin mengalihkan pembicaraan.
“Aku menunggumu,” jawabku pelan.
Dengan jelas bisa kudengar suara Faruq yang tertawa kecil. Aku tahu itu bukan tawa lucu. Tapi dia menghina penantianku.
“Aku harap kamu bisa menemukan orang lain yang tepat,” katanya kemudian.
“Orang yang tepat untukku itu yang bagaimana? Bagiku, hanya kamu orang yang tepat.”
“Aku nggak bisa. Kita terlalu berbeda.”
Dengan impulsif, kepalaku mengangguk-angguk. Mencerna setiap kata-katanya. “Lalu apa maksudnya kamu meneleponku setelah sekian tahun? hanya untuk mengatakan ini? dengan nada yang berbeda dari janjimu dulu?”
Hening. Kami terdiam. Tapi aku bisa mendengar dengus nafasnya kembang kempis menderu di Hp.
“Aku tidak bisa pulang. Aku sedang ada di Papua.”
Mataku terbelalak. “Kenapa? Bukannya waktu itu kamu bilang akan jadi Bintara? Bagaimana mungkin bisa sampai ke Papua?”
“Aku memutuskan jadi TNI dan sudah hampir tiga tahun aku disini.”
Tubuhku langsung lemas. “Kapan kamu kembali?”
Tidak ada jawaban. Kupikir, mungkin saja dia menggeleng. “Aku tak akan kembali. Mungkin. Kalaupun aku kembali, mungkin aku tak akan bisa mewujudkan janjiku padamu.”
“Faruq, dengar! Aku menunggumu. Sembilan tahun. Aku masih menunggumu!”
Tidak ada jawaban lagi. Aku terus menunggu dia bicara. Kupasang baik-baik telingaku untuk memastikan dia masih hidup di seberang. Hingga kemudian kutangkap sebuah suara radio, TV, atau apalah itu seperti bunyi berisik.
“Apa kamu bisa tahu bagaimana rasanya membaca buku yang sama berulang-ulang?”
Dahiku mengekrut. “Jika aku menyukai buku itu, aku akan terus membacanya berulang-ulang hingga aku hafal bagaimana alurnya. Bahkan sampai aku bisa menemukan kesalahannya.”
“Aku nggak gitu. Aku merasa bosan karena terus membaca cerita yang sama berulang-ulang. Nggak ada tantangan. Itu sebabnya sekarang aku paham kenapa kamu dulu selingkuh. Mungkin karena aku yang terlalu lemah dan membosankan.”
Aku terdiam. Tapi kemudian aku segera bicara lagi sebelum hilang kesempatan. “Aku sudah bisa menangkap apa maksudmu. Sekarang berikan aku keputusan. Tunjukkan jika dirimu laki-laki dan bisa bersikap jantan. Jangan pernah menggantungkan statusku!”
“Statusmu sudah jelas. Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi.”
“Begitu? Tapi ketika kamu dulu meninggalkanku, aku tidak menangkap apa-apa. Kecuali harapan palsu yang kamu berikan hingga sampai detik ini aku masih tetap menunggumu. Aku terus memperbaiki diri. Nggak selingkuh dan nggak menerima laki-laki lain dalam hatiku selama kamu pergi. Aku berusaha meletakkanmu di posisi paling tinggi. Aku nggak pernah membiarkan satu orang laki-lakipun lewat di hatiku, karena aku masih milikmu!”
“Kita nggak menikah, kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau. Seperti dulu. Laila yang kukenal adalah Laila yang sangat ceria dan bisa dengan mudah menemukan laki-laki baik di sekelilingnya. Tuhan membantumu. Memberikanmu keberuntungan berupa wajah cantik dan terus di cintai banyak orang.”
Tapi aku kehilanganmu. Tidak ada gunanya semua itu. Detik berikutnya aku merasa konyol. Sembilan tahun aku menunggunya dan dia memangkas harapanku dalam sembilan menit.
***
“Mbak Laila?”
Aku tertegun di balik pagar. Seorang laki-laki yang masih menggunakan seragam army loreng mendatangi rumahku. TNI. Setidaknya aku melihat band itu di dadanya.
“Saya Fajar,” katanya begitu aku kembali menatapnya. “Ada kiriman, dari Faruq.”
Di tangannya terdapat sebuah kotak sedikit besar. Aku tak bisa menduga apa isinya. Kelihatannya tidak begitu berat. Setidaknya di tangan Fajar yang jelas terlihat kekar. Aku menerimanya begitu Fajar menyerahkannya. Setelah berbasa-basi sedikit dengan Fajar, ternyata aku tak bisa membuatnya mampir. Dia memilih untuk segera pergi. Seolah takut kalau aku akan bertanya lebih banyak tentang Si Pengirim paket.
Jantungku berdetak tak biasanya. Karena semua terlihat tidak biasa. Mulai dari datangnya seorang lelaki, TNI. Fajar yang tiba-tiba mengantarkan paketan dari Faruq. Bungkusannya kotak berlapis kertas coklat. Perginya Fajar yang buru-buru. Semua ini baru kudapatkan setelah sembilan tahun berselang.
Tidak ada surat begitu aku membuka bungkusan kotak itu. Tapi isinya jelas membuatku terkejut. Tiga puluh delapan seri komik Samurai Deeper Kyo. Buku-buku itu tak bersampul. Kelihatan jelas kalau komik ini sering di baca. Dulu, komik itu selalu yang kuminta pada Faruq. Dia selalu memberikanku apapun. Termasuk komik. Itu jaman ketika aku masih labil dan suka membaca komik. Komik pertama, sekaligus yang kusukai. Faruq tahu itu. Aku rasa dia membeli ini untuk dirinya sendiri.
Halaman pertama dari seri komik pertama kubuka. Mataku di buat terbelalak. Ada tulisan di halaman pembukanya.  Tulisan tangannya.
Aku tak pernah bosan padamu seperti aku bosan pada cerita dalam komik-komik kesukaanmu ini. Bagaimana mungkin perasaan manusia bisa bosan pada manusia lain? karena cinta itu rumit dan tidak bisa di pikir menggunakan logika. Tidak ada rumusnya.
Aku tidak pernah melupakanmu, keceriaanmu, air matamu, hingga perselingkuhan yang sering kamu lakukan didepan mataku. Tapi hatiku selalu memaafkanmu. Aku tidak tahu apa sebabnya, mungkin karena cinta tidak ada rumusnya. Mungkin karena kamu bukan buku yang membuatku bosan ketika kubaca berulang-ulang.
Ketika aku menghubungimu kemarin, sebenarnya aku sudah ada di Jakarta. Aku dipulangkan karena mengidap Malaria. Sebenarnya tidak boleh. Tapi aku mengundurkan diri. Mungkin aku akan mati. Sebelum itu, aku ingin melihatmu. Tapi aku malu, bukan karena malaria. Tapi karena janji yang tak pernah bisa kuwujudkan ketika kepergianku dulu. Menjadi imammu. Maafkan aku.
Kututup lembarannya. Mataku kabur memandang jauh keluar menembus gawang pintu. Ada bayangan Faruq disana. Menungguku menghampirinya. Pelan kakiku menapak telanjang di atas ubin basah. Berjalan lurus tanpa alas.

Dalam sengatan surya, aku berlari di atas bara aspal yang mengganas. Bahkan aku tak peduli jika kakiku harus terbakar. Mata Faruq dalam bayang-bayang telah menarikku jauh melintasi jalan raya dan menjemput angin. Hingga tak kusadari sesuatu yang keras menyentuhku dengan kasar. Kemudian melemparkanku keujung jalan yang panasnya seperti penggorengan. Pipiku menyentuh aspal. Rasanya aku matang. Kepalaku membentur aspal seperti piring yang jatuh dari ketinggian. Tulangku berderak dan menimbulkan rasa ngilu. Tak tahu apa yang masih bisa kurasakan. Hanya terasa panas, pusing, dan wajahku basah lengket bau anyir. Kemudian gelap.

-----FIN-----