Friday, November 8, 2013

PELADHEN

Cerpen

PELADHEN



"Jangan ajari aku tentang prihatin. Selama ini aku sudah cukup prihatin dan aku  selalu kalah dengan mereka!" desis Edo sambil menunjuk ke arah adik-adik tirinya yang sedang asik menonton TV.

Perempuan di hadapannya diam saja. Wajah yang sedikit demi sedikit sudah mengerut karena usia, hanya diam  terpaku  menatap anaknya yang kian hari semakin tumbuh dewasa dan usianya kini sudah menginjak dua puluh lima tahun. Tapi tak sekalipun dalam hidup perempuan  ini  merasa bisa dekat dengannya. Karena itu, wajar jika dia marah. Tapi satu sisi dirinya juga merasa marah, karena anak yang sudah di besarkannya selama duapuluh lima tahun itu kini malah tumbuh menjadi pemuda yang kurang ajar dan tidak tahu sopan santun pada ibu kandungnya sendiri.

"Kamu bisa marah  pada Ibu. Padahal kamu  nggak pernah  marah sama sahabatmu!"

"Dia lain. Dia lebih memahamiku daripada Ibu!"

"Jangan buat kesabaran Ibu sampai pada batasnya!"

"Kesabaran itu nggak ada batasnya, Bu. Jika memang ibu punya kesabaran yang terbatas, itu namanya bukan sabar," ujar Edo dengan nada mengejek.

Brraaakkk...

Ssekali gebrak, beberapa benda yang ada di meja makan itu melompat. Dahi Edo berkerut dalam. Jantungnya berpacu cepat. Dia merasa sedikit ciut juga di hadapan wanita yang sudah dikenalnya dengan baik ini.

"Ibu membesarkanmu bukan untuk menjadi anak yang kurang ajar," desis ibunya. Tadinya dia bisa sabar menghadapi anak sulungnya ini, tapi lama-lama dia bisa juga melihat ada percikan api yang membara dimata anaknya. Tapi sudah kepalang basah, dia tak bisa lagi menahan amarahnya. Toh selama ini dia selalu menggunakan emosi dan tangannya untuk mendidik agar anak-anaknya bisa patuh padanya dan selalu mengikuti apappun kemauannya.

"Benar, aku di ajari untuk menjadi anak yang pintar. Pintar untuk prihatin, pintar mengalah dan pintar di tindas. Ibu sudah menciptakan satu  manusia yang bisa di paksa untuk menjadi idiot di rumah ini !"

"Usiamu sudah dua puluh lima tahun dan aku  nggak percaya kamu masih bisa berkelakuan seperti anak kecil,"

"Karena aku  adalah anak. Tapi ibu nggak pernah  ngasih hakku sebagai anak. Malah lebih parah dari itu, aku hanya peladhen di rumah ini !"

Usai mengatakan seperti itu, Edo segera beranjak pergi dari hadapan ibunya. Wanita itu tergugu diam. Tidak pernah menyangka sama sekali bahwa anak yang di perjuangkannya secara mati-matian dulu, kini malah melawannya. Dan ketika dia menyebut kata ‘peladhen’, dada wanita itu langsung bergetar hebat. Tubuhnya tiba-tiba saja menggigil dan terjatuh lemas di atas kursi meja makan. Di tatapnya hamparan makanan yang ada di hadapannya. Ada ikan asin, ada sayur asam, ada sambal terasi dan  beberapa makanan hiburan lain seperti mie goreng dan capcay.

Sepagian Edo berkutat di dapur dan menggantikan tugasnya sebagai Ibu Rumah tangga. Anak sulungnya itu terpaksa memenggal beberapa menit waktunya hanya untuk menyiapkan ini semua sebelum dia berangkat kerja. Tiba-tiba semua makanan itu terlihat seperti gumpalan kapas yang selalu membuatnya alergi. Di urungkan niatnya untuk memakan  makanan itu, ini sudah jam depalan pagi dan sudah waktunya untuk pergi ke acara PKK.

***

"Kenapa lagi?" tanya Bondan  begitu  melihat sahabatnya  itu terus saja menekuk muka. Beberapa orang yang lalu lalang tidak diindahkannya, malah lebih sibuk melamun dan terdiam.

"Biasa, nyokap gue. demen banget ngajak gue berantem. Emangnya gue ini musuhnya?"

"Jangan gitulah, Bro. Dia kan nyokap lo. Durhaka loh!"

"Jangan ajari gue soal durhaka atau neraka. Gue tahu persis soal itu. Gini-gini gue juga rajin sholat dan ngaji. Tapi kali ini, gue bener-bener nggak bisa kontrol lagi. Kata-kata nyokap gue tadi nyeseg masuk dalem hati. Gue sakit hati!"

"Bisa gitu ya anak sakit hati ama nyokap?" Bondan sok heran seraya menggaruk-garuk dagunya.

"Kenapa enggak?  buktinya gue lagi ngrasain sakit. Dan asal lo tahu. Sakit gue ini udah sejak lama. Sejak gue sadar kalau dia itu nyokap gue!"

Bondan  terdiam. Dia tahu betul siapa Edo dan dia paham betul bagaimana dia dulu. Bondan dan Edo sama-sama berangkat dari kampung dan merantau ke Jakarta. Dulu ketika mereka sama-sama masih kecil, Bondan sering melihat seorang wanita muda dan cantik datang ke menemui Edo dengan  membawa banyak sekali makanan dan mainan. Kata Emak Bondan, wanita itu adalah Ibunya Edo. Waktu  itu Edo belum paham betul siapa dia. Edo hanya senang  ketika ada orang datang  mengunjunginya dengan membawakan banyak makanan, mainan dan uang untuk dirinya. Secara, selama ini dia harus hidup tersisih dan mengalah dari kakak-kakak sepupunya.

Emak Bondan adalah satu-satunya wanita yang di anggap Ibu oleh Edo, sejak kecil, Edo sudah di titipkan pada Pamannya. Berbagai macam  diskriminasi oleh Bibinya selalu di terima Edo dengan  lapang dada.  Itu karena Edo belum paham siapa dirinya dan apa perannya disana. Dia hanya berpikir paman dan  bibinya adalah  keluarganya, orang tuanya. Sedangkan kakak-kakak sepupunya adalah kakak kandungnya.

Ketika Bondan memberi tahu  tentang siapa wanita itu pada Edo. Di luar perkiraan Bondan,  ternyata Edo sudah tahu  siapa wanita itu. Tapi dia sama sekali belum mau memanggilnya dengan sebutan ‘Ibu’. Baginya, wanita yang di anggap Ibu adalah Ibunya Bondan. Tempat Edo biasa lari jika ada masalah. Tempat Edo mencari kasih sayang dikala Bibinya mulai sewot dan selalu  menyalahkannya. Tempat Edo meminta makan disaat perutnya kelaparan. Dari Emak Bondan, Edo bisa masak. Dari keluarga Pamannya, Edo biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dan jadilah Edo yang mandiri dan tidak membutuhkan orang lain untuk membantunya, kecuali kasih sayang untuk penyejuk dahaga hatinya.

"Gue kangen sama Emak. Kira-kira emak lagi apa, ya?" mata Edo menatap langit-langit distro yang dimilikinya.

Sejak kecil Edo sudah terbiasa ikut Emak Bondan berjualan baju bekas di pasar. Bersama Bondan meneriakkan dagangan-dagangan mereka pada setiap orang yang lewat. Emak Bondan  menyewa sebuah lapak yang di bayar secara mingguan. Baju bekas memiliki pasar tersendiri di masyarakat. Karena itu, Emak Bondan  mengemas baik-baik dagangannya dan di bantu oleh anaknya, juga Edo. Kian hari, dagangannya semakin laris dan pada akhirnya Emak Bondan  bisa menjual baju-baju baru, tentu saja dia akan  tetap menjual baju bekas. Tapi kali ini yang memerankan  pedagang  baju  bekas adalah Bondan dan Edo. Selepas pulang sekolah, mereka akan segera berlari ke pasar dan  meneruskan jualan Emaknya hingga Magrib menjelang.

Sejak kelas dua SMA, Edo di tarik ke Jakarta oleh Ibunya. Tidak ada pilihan bagi Edo untuk menolak. meskipun berat meninggalkan Bondan dan Emaknya, tapi Edo tetap berangkat demi impiannya utuk kuliah. Edo ingin kuliah dan Ayahnya yang baru menjanjikan kuliah untuk Edo jika dia mau pulang ke Jakarta.

Saat pertama kali tinggal bersama dengan Ibunya setelah  belasan  tahun, dia merasa aneh dan kikuk. Edo merasa tidak mendapat tempat di rumah itu, meskipun rumah itu begitu besar dan lebar, juga ramai oleh penghuni rumah yang diisi oleh riuh rendah  tawa dan tangis adik-adik tirinya, tapi Edo tetap merasa sepi.

Belum lagi tekanan demi tekanan yang sering di dapatkan Edo dari Ibunya yang terus saja mengatakan kalau dia harus rajin sekolah, rajin belajar, harus tahu diri, harus tahu terima kasih, jangan sampai membuat malu,  dan jangan membuang-buang uang. Hal itu membuat tubuh Edo semakin kurus dan merasa depresi. Seminggu Edo sakit dan ingin kembali ke kampung  saja. Tapi Ayahnya tidak mengijinkan Edo untuk kembali kesana. Karena itu bukti bahwa Ayahnya sudah gagal dalam mendidik Edo di Jakarta, hingga membuat anak itu tidak betah.

"Edo pengen punya temen yang bisa Edo ajak ngobrol disini, Yah," kata Edo bernada meminta. Bisa mengatakan seperti ini saja, Edo harus mendapatr sorotan tajam dari Ibunya yang seolah mengatakan kalau Edo itu anak laki-laki yang bawel dan menyusahkan.

"Kamu kan bisa punya teman kalau  kamu udah bisa adaptasi  di sekolah baru kamu!" sahut Ibunya tegas.

Edo terdiam. Selama ini dia terlalu sungkan untuk meminta seuatu pada wanita yang ada di hadapannya itu. Meskipun sekarang dia memiliki Ayah yang baik dan mau mengabulkan semua permintaannya, tapi justru Ibu Edo menganggap dia sebagai beban  dan  jangan sampai merepotkan.

Pada akhirnya, Edo tetap diam dan  terus saja diam. Menjalani hari-harinya di Jakarta sebagai anti sosial. Menjauh dari segala bentuk keramaian dan lebih banyak menyendiri. Hingga suatu hari dia bisa memiliki satu-dua teman yang bisa memahami jalan pikirannya.

"Kejutan!!" seru Bondan saat Edo membuka pintu kamarnya.

"BONDAAAAN!!"

Dua sahabat itu berpelukan hangat. Air mata Edo hampir saja tumpah begitu mendapati Bondan  ada di dalam  kamarnya. Seolah baru bangun dari tidur dan mendapati dunia yang berbeda, hati Edo di buat membuncah luar biasa dengan kehadiran Bondan.

"Emak mana?" tanya Edo begitu dia sudah bisa mengendalikan rasa bahagianya.

"Emak ya di kampung lah, Do."

"Apa kabar?"

"Nggak ada lo nggak rame!" gurau Bondan sambil nyengir. Edo tersenyum lebar. "Lo kurusan, Do. Nggak di kasih makan sama Mami ?" sekali lagi Edo hanya tersenyum. Bondan mengerutkan dahi, "Gimana sekolah lo ?"

"Lumayan," jawab Edo singkat tetap dengan tersenyum.

"Jangan senyam-senyum aja dong, ayo cerita. Gimana kondisi lo selama disini?"

"Lumayan,"

Ada begitu banyak hal yang sangat ingin di ceritakan Edo pada Bondan. Keluarganya, Ayahnya, Ibunya yang lebih galak dari pada Guru mereka waktu SD dulu, adik-adiknya yang semakin hari tambah bandel dan semua itu di jadikan tanggung jawab Edo.
"Apa yang udah terjadi?" tanya Bondan pelan pada akhirnya.

"Aku cuma kangen sama Emak. Aku kangen sayur  nangka  buatan  Emak. Aku...." kepala Edo menunduk dalam. Air matanya menggenang lagi.

Edo tak mau banyak cerita tentang bagaimana perasaannya. Dia seorang laki-laki yang wajar kalau semua orang membebankan tanggung jawab  padanya. Hanya saja Edo merasa nasibnya sangat ironis. Sebagai laki-laki, dia sama sekali tidak bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Bukan  karena Edo tidak  mau melakukannya, tapi Edo hanya takut pada satu hal, Neraka Tuhan.

Semakin hari Edo semakin tumbuh dengan banyak belajar. Bondan di biayai sekolah di Jakarta oleh Ayah tiri Edo. Hanya saja, Bondan hidup di kos dan Edo tetap berada di rumahnya, itu karena Ibu Edo tidak ingin melihat ada satu lagi makhluk asing didalam rumahnya dan bukan dari garis keluarganya. Sedangkan di dalam rumah itu sudah penuh sesak dengan banyaknya anggota keluarga yang setiap akhir minggu pasti mereka akan berkumpul, mereka adalah anak-anak angkat Ibu Edo.

"Gue ini anak kandungnya, tapi nggak pernah sekalipun  nyokap gue tuh ngelihat gue dan apa yang udah gue lakuin buat dia,"

"Mungkin itu karena lo udah di pandang mandiri ama nyokap lo, Bro. Makanya nyokap juga santai-santai aja ama keadaan lo,"

"Nggak bisa gitu juga, dong!"

Bondan  tertawa dalam  hati. Merasa lucu, sekaligus miris pada nasib Edo. Dia laki-laki, tapi malah melakukan  pekerjaan layaknya perempuan. Bangun tidur saat fajar belum datang. Memasak. Membereskan  rumah, hingga mengantar jemput adik-adiknya yang super manja. Sedangkan  Ibunya, lebih sibuk dengan arisan PKK, kegiatan RT, jalan-jalan bersama teman-temannya, hingga buang-buang waktu di dalam salon tiga kali dalam seminggu.

Edo sempat stress dengan kelakuan Ibunya. Hingga pernah  satu  malam dia pergi dari rumah, lalu menginap di kost Bondan. Tapi tetap saja, Edo merasa bersalah sudah meninggalkan adik-adiknya. Biarpun mereka adalah adik-adik tiri, tapi Edo masih punya rasa kemanusiaan. Dia terlalu banyak khawatir dan esok subunya, dia sudah ada di rumah untuk menyiapkan sarapan dan kembali menjadi peladhen.

"Tapi berkat kerja kerasmu sebagai peladhen  itu, akhirnya kita bisa dapat distro ini dari Ayah tirimu, Do," kali ini ganti Bondan yang duduk menerawang, menatap langit-langit distro.

"Iya, tapi nggak tahu  kenapa, kalau  bayangan nyokap gue muncul dengan kata-katanya yang sering bikin gue sakit hati, rasanya gue pengen pergi aja. Gue nggak mau ada disini. Gue pengen pergi yang jauh dan nggak pulang lagi,"

"Ahh, paling juga ntar balik lagi. Lo kan masih punya hati,"

"Gue ini cuma peladhen, Ndan. Tanpa ada gue juga pasti nyokap bisa nyari orang lagi. Di tambah  lagi, gue ini memang seorang  peladhen. Buktinya, waktu ada saudara-saudara angkat gue datang kerumah, selalu mereka yang mendapat perhatian  nomor satu dari nyokap. Sedangkan gue ?"

"Lo inget nggak si Nana, temen kita waktu SMA dulu?" tanya Bondan tiba-tiba.

"Nana..... Rosdiana?" tanya Edo balik.

"Nana itu juga sama kayak lo, menganggap diri sebagai peladhen. Dan katanya dia juga emang di anggap seperti itu sama bonyoknya. Adik-adiknya semua cowok dan nggak ada satupun yang bisa bantuin dia kalau dia lagi kerepotan. Pendek kata, mereka semua nggak bisa di andalkan. Sedangkan elo, lo itu cowok, tapi punya hati seorang cewek, lo nggak tega'an. Lo juga sabar. mungkin itu sebabnya nyokap lo suka "menindas" lo dengan sikap otoriternya,"
"Kadang gue mikir, apa iya ada Ibu semacam itu di dunia ini?"

"Ibu tetap Ibu, Do. Jiwa mereka tetap sama. Hanya saja,  lo coba bayangin aja gimana rasanya jadi single parent di usia yang sangat muda, enam belas tahun. Di usia segitu dia udah puya anak, udah jadi janda, udah harus menghidupi anaknya sendiri, sedangkan Bapak lo kemana juga nggak ada yang tahu."

"Karena itu gue nggak mau jadi laki yang kayak dia. Gue nggak mau bikin sakit hati nyokap gue. Tapi kenapa malah gue yang suka di bikin sakit hati ama nyokap gue?"

"Harusnya rasa peka dalam diri lo itu dibuang dikit biar setiap omongan  nyokap lo itu nggak terlalu lo ambil hati. Ujungnya kayak gini, kan. Lo disiksa sama rasa sakit itu sendiri,"

Edo mendengus jengkel. Di tengoknya jam dinding yang menempel di tembok. Jarum pendeknya sudah menunjukkan pukul satu siang. dia segera beranjak dari duduknya dan mengambil kunci motor.

" Udah mau jemput? baru  jam berapa ini...?" tanya Bondan saat mendapati Edo sedang merapikan dirinya.

"Ntar nyampe sono juga tuh bocah-bocah udah pada keluar dari sekolah,"

Bondan  tersenyum  sekilas. Saat melihat Edo keluar dari pintu distronya, dia baru beranjak dari duduknya dan saat itu juga ada pelanggan yang memasuki tokonya. Anak sekolahan bertampang jutawan.

***

"Ibu yang sudah nabrak mobil saya!" pria yang kepalanya botak belakang itu meradang.

"Saya nggak nabrak. Itu tadi ada motor yang nyelip lalu dia nabrak mobil situ. Coba lihat, cuma lecet!" bantah Ibu Edo tak kalah tegas.

"Enggak, situ nggak lihat apa mobil saya penyok bawahnya gini?" tanyanya tetap dengan intonasi super power sambil tangannya menunjuk bemper belakang mobilnya yang sudah penyok .

"Saya itu parkir mobilnya ada berapa meter dari mobil Bapak. Satu meter, jadi itu bukan salah saya !"

"Saya nggak mau  tahu, pasti ini ulah Ibu. Kalau Ibu  nggak mau tanggung  jawab, saya rusak mobil Ibu !"

Edo melihat pemandangan  itu dengan  bibir mengerucut. Menahan amarah sebaik mungkin. Bukan pertama kalinya dia melihat Ibunya bersitegang dengan orang lain di tempat umum. Apalagi kali ini di sekolah Adiknya. Banyak wali murid yang akan menjemput anaknya melihat perang urat saraf  itu. Edo sudah  paham  kalau Ibunya tak akan pernah mau mengalah pada siapapun, biarpun dia bersalah, dia akan tetap terus membela diri.

Pertengkaran  mulut  itu terus berlangsung hingga seorang Security datang dan mendamaikan mereka. Terlihat pria botak itu sedang menelepon  seseorang. Edo segera menghampiri Ibunya dan mendapati wanita itu juga sedang mengotak-atik BB-nya. Nyata terlihat diwajah Ibunya kalau wanita itu juga panik.

"Kenapa, Bu?"

"Tau’ tuh, orang gila. Masa Ibu nggak nabrak, eh malah di kata nabrak. Nabrak darimana? parkir juga sebelahan. Jaraknya juga satu meter. Yang bener aja!" oceh Ibunya begitu mendapati ada seseorang yang bisa membelanya.

Edo melihat sekilas mobil pria botak itu. Penyoknya memang bukan penyok biasa. Dilihat dari cara parkir mobil Ibunya yang kurang bagus, memang Ibunya patut dicurigai.

"Saya sudah telepon teman saya, dia Polisi. Kalau Ibu tetap nggak mau ganti rugi, saya laporin Ibu ke Kantor polisi !"

"Laporin saja, situ kira saya ini takut?  suami saya Pengacara!"

Edo memutar bola matanya ke atas. Di saat yang seperti ini, Ibunya masih juga bisa berbohong, Ayah  tirinya itu adalah seorang Manager di perusahaan asuransi. Lagi pula, kalau saja Ayah  tirinya melihat  kejadian  seperti itu, dia pasti tidak mau  ambil repot untuk debat kusir yang bodoh semacam itu.

"Kalau gitu sekalian saja saya rusak spion Ibu. Biar kita impas!"

Prrrraaaangg!!!

Belum selesai Edo dan Ibunya menangkap maksud kata-kata pria botak itu, spion Honda Jazz berawarna hijau itupun langsung jatuh di tanah, bunyi alarm mobil langsung menyalak hingga menimbulkan keributan yang lebih besar. Semua orang yang tadinya hanya melihat dari jauh langsung mendekat untuk melihat kejadian lebih jelasnya.

Bruukkk, pria botak itu terhuyung-huyung hingga kemudian jatuh di tanah, tangan Edo langsung mencengkeram kerah baju pria botak itu. Ditariknya pria botak itu ke hadapan Security yang dari tadi tidak bisa berbuat  banyak karena pria botak  itu marah-marah dengan menakutkan.

"Gue nggak suka ada orang yang maki-maki nyokap gue dan dia ngerusak barang-barang punya nyokap gue," desis Edo dengan mata merahnya yang sudah menyiratkan amarah tak terkendali. "Minta maaf ama nyokap gue sekarang juga, Bajingan,  atau lo mati !!"

Sepasang tangan menempel di bahu Edo. Saat kepala Edo melihat siapa yang sudah memeluknya, matanya menangkap air mata yang tak hentinya berlinang. Tatapannya penuh kasih dan juga takut. Sebuah perasaan mendebarkan menguasainya Edo, baru kali ini dia melihat sinar mata yang beda dari biasanya. Sinar seorang Ibu yang tak ingin anaknya masuk dalam lubang kesesatan.

-----END-----

NP : Peladhen = Pembantu/Pelayan (bahasa jawa)

FROM WONDER MOTHER

Cerpen 

FROM WONDER MOTHER



Pondok Indah

Sengaja kumatikan Hp, sebisa mungkin kembali konsentrasi pada jalanan yang sedang  macet parah di depanku. Jam 17.25 WIB, setidaknya aku tadi sudah sempat mengeceknya di layar Handphone. Tanganku berusaha merogoh saku celana, berharap masih ada permen mint yang tersimpan disana. Aku perlu mengatasi kejenuhanku dengan padatnya lalu lintas di jalanan yang terkenal dengan real estate-nya. Kepalaku selalu menoleh ke arah kiri saat melewati jalanan ini, dimana ada layar elektronik berukuran sedang yang di letakkan di pinggir jalan raya, sebuah layar yang berisikan iklan promosi dari Bank Swasta. 

Bayanganku  kembali  menerawang, dua hari lalu kutemukan Ibu jatuh pingsan untuk yang kesekian kalinya. Rasa panik menyergapku. Adik-adikku sedang pergi bermain keluar. Sedangkan Ayahku  repot mengurusi warganya yang sedang labil dengan masalah sampah yang akhir-akhir ini menghantui komplek kami. Aku meruntuki diri, kenapa aku bukan laki-laki. Kalau saja aku punya sedikit otot yang berlebih, rasanya aku punya kekuatan untuk membopong Ibuku dan menidurkannya di kasur. 

Ibu belum juga sadar dari pingsannya. Aku makin panik dan segera ku telepon Ayah. Tapi seperti biasa, tidak ada jawaban. Ayahku benar-benar sibuk di hari minggunya. Dengan terpaksa aku mengiriminya SMS, kuberi tahu jika Ibu pingsan lagi. Dunia terasa menyeramkan saat ku dapati wanita baya ini terpejam menahan sakit yang hanya bisa di rasakannya sendiri. 

Satu bulan lalu saat Ibu masih seperti ini, pingsan setiap saat dan setiap waktu. Bahkan aku terpaksa berhenti dari tempatku bekerja hanya untuk menemani Ibu, merawat rumah, dan menjaga adik-adikku. Mereka masih kecil dan belum bisa di ajak memahami kondisi yang ada. Aku menyesali diri, kenapa Ibu harus bertemu dengan Ayah sangat telat, saat usiaku sudah 12 tahun dan Ibu membutuhkan pendamping hidup untuk membantunya menopang hidup juga tentunya. 

Aku menerima Ayah sebagai Ayah tiriku dan sejauh ini beliau benar-benar menganggapku seperti anaknya sendiri. Sejak melahirkan adikku yang laki-laki, kondisi Ibu sering lemah, bahkan  saat  itu Ibu mengalami pendarahan hebat. Aku justru menyalahkan diriku sendiri atas apa yang menimpa Ibu. Andai saja Ibu tidak menikah dengan Bapak kandungku di usia 15 tahun, pasti Ibu tak akan mengalami pendarahan hebat saat melahirkan adik laki-lakiku. 

Kupacu mesin motorku yang terus membelah di antara kerumunan kemacetan yang mengular. Deru mesin mobil dan knalpot motor yang bersalip-salipan denganku di Jalan Raya, membuatku makin mantap untuk cepat sampai di Rumah Sakit dan mendapati Ibu menyambutku disana. 

"Mbak, Ibu tadi habis di periksa lagi. Kata Dokter, Miomnya harus cepat-cepat di angkat!", Ranto sudah menyambutku di tempat parkir begitu aku sampai dan  mencantolkan helmku di gagang spion motor. 

Kuhembuskan  nafas. Tidak ada yang bisa kulakukan, aku hanya bisa mengangguk pada adik laki-lakiku itu. Usianya masih sepuluh tahun, tapi kondisi memaksanya untuk bisa memahami keadaan seperti ini. Wajahnya sedikit panik dan takut. Maklum, dia anak kesayangan  Ibuku, apa-apa yang dilakukannya harus bersama dengan Ibuku. Singkat kata, dia anak manja di antara kami. Yaitu aku, dia dan satu lagi adik perempuanku yang paling bontot. 

Sewaktu di Kantor  tadi, aku bercerita pada temanku tentang kondisi yang menimpa Ibuku. Temanku bilang kalau Ibuku  bisa sembuh dengan operasi pengangkatan Miom. Aku sendiri belum begitu paham tentang apa itu Miom. Banyak kutanyakan hal itu pada temanku. Katanya Ibunya dulu juga pernah  mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami Ibuku saat ini. Dan bagusnya, operasi itu berhasil. Ibunya sehat walafiat sampai saat ini. 

Ayah baru saja menemui pihak administrasi Rumah Sakit dan meletakkan form persetujuan operasi beserta rincian biayanya di atas meja begitu saja. Ibuku sedang terbaring lemah di atas kasur pasien. Jarum Infus terpasang di tangannya. Aku ingat tentang nenekku dulu sebelum beliau meninggal, dia begitu takut dengan jarum infus, bahkan menolak saat jarum itu menusuk kulitnya. Tapi dengan terpaksa diapun menerima. 

"Aku harus kuat meskipun aku tak mau. Aku harus sembuh dan kembali berada di samping kakekmu,"

Setidaknya itulah kata terakhir darinya yang masih kuingat sampai detik ini. Aku juga berharap Ibu sama seperti nenek. Berjuang melawan rasa sakitnya atau mungkin juga menahan rasa sakit itu. Ibu dan Nenek memiliki kemiripan, mereka tidak ingin menampakkan rasa sakit  itu pada orang-orang di sekeliling mereka. Bahkan padakupun  tidak. Kekuatan itu yang membuatku bisa bertahan  sampai saat  ini untuk membentuk  pribadiku menjadi seorang wanita yang dewasa dan mampu bertahan di antara kepanikan yang melanda. 

"Ayah masih ada simpanan. Kamu simpan saja uangmu. Masih banyak hal lain yang harus kita pikirkan dan  persiapkan," Dengan lembut Ayahku memasukkan ATM-ku ke dalam tas Gucci-ku lagi. 

Aku benar-benar merasa tak berguna sebagai anak. Tapi Ayah terus meyakinkanku kalau hidup kami tidak berhenti sampai disini saja. Masih banyak kebutuhan yang harus kami pikirkan. Aku paham  itu. Siang hari aku bekerja di sebuah BPR Syariah dan  malam  hari aku kuliah. Belum lagi aku harus merawat dan  menjaga adik-adikku, mengurus rumah di pagi subuh, menyiapkan  makan untuk keluarga sebelum aku berangkat kerja. Sedikit banyak kemandirianku terempa. Aku juga bisa merasakan betapa lelahnya Ibuku setiap hari. Menjalani perannya sebagai seorang Istri, Ibu dan wanita. 

Kini aku berada diposisi yang  hampir  sama dengannya. Aku belajar menjadi Istri dan Ibu, juga menempa diriku yang tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Wanita yang bisa bertanggung  jawab pada kehidupannya, sekelilingnya, dan juga masa depannya. Aku wanita dan aku perkasa. Terus saja aku mengulang-ulang kalimat itu di benakku. Berharap aku benar-benar menjadi wanita seutuhnya. Aku bisa dan aku mampu. 

"Cepat sembuh, Bu. Nai sayang Ibu.... jangan biarkan dunia kami gelap. Aku masih harus banyak belajar untuk bisa menjadi wanita yang kuat sepertimu dan seperti Ibu-ibu lainnya, yang bisa menggenggam dunia dengan telapak tangannya, juga memeluk dunia dengan senyumannya." Kupeluk dan kucium tangan Ibuku, terasa hangat. 

Tiba-tiba ku rasakan sebuah jemari menyentuh ubun-ubunku, saat ku angkat kepala, kulihat Ibu dengan senyumannya mengembang bijaksana. Kucoba tersenyum meskipun kurasakan airmataku mengalir deras di dalam dada saat melihatnya begitu lemah. 

" Wanita seutuhnya adalah wanita yang selalu mempedulikan sekelilingnya. Karena kamu wanita dan  tetaplah  menjadi  seorang wanita yang  perkasa untuk dirimu, untuk keluargamu dan untuk anak-anakmu," lirihnya.


Aku tersenyum, merasa yakin. Meskipun jasad Ibuku melemah, tapi hatinya tetap perkasa seperti yang ku tahu. 

-------END------

NP : This is for my wonder mother 

Sunday, November 3, 2013

MILAN

Cerpen
MILAN

 
Los Angeles, California

Bagaimanapun dia adalah seorang laki-laki normal yang selalu membutuhkan kehangatan wanita, untuk selalu duduk menemaninya, ada di sampingnya dan menghiburnya ketika penat terus saja menghampirinya. Keinginan terbesarnya hanyalah untuk membahagiakan ayahnya yang sudah empat puluh tahun menjadi sopir truck  puso. Sudah selama itu pula ayahnya menginginkan salah satu dari enam anaknya akan bisa membanggakannya di ranah dunia luas.
Ibunya hanya seorang buruh tani ketika itu, dan ketika Milan berusia duabelas tahun, keinginan terbesarnya adalah membelikan ibunnya sebuah cincin emas empat karat. Lama sudah waktu yang di butuhkannya untuk menjadi seperti sekarang ini. Dua hari lalu Milan sudah membuat  agenda kepulangannya ke Indonesia. Ditatapnya lekat-lekat salah satu angka di kalender itu. Denaknya sudah berteriak-teriak kata pulang saja.
Di tangannya tergenggam erat sebuah kalung berlian yang harganya selangit, Milan akan memberikan kalung itu pada calon istrinya kelak. Dia tidak peduli apa anggapan masyarakat, juga anak buahnya tentang seleranya atau apapun itu yang menyangkut dengan perjodohannya nanti saat dia pulang kampung.
"Malang..." gumamnya dengan desah nafas seolah-olah sedang merasakan sedang berkeliling di Kota yang sarat dengan ikon apel itu.
Sejatinya memang dia sangat merindukan kota kecilnya itu, kota yang sudah membesarkannya dan tumpah darahnya semasa menjalani hidup yang keras dan penuh lika-liku. Hingga pada akhirnya, sepuluh tahun lalu dari kota itu dia di hantarkan kesini, Los Angels. Meskipun mimpinya bukanlah kesini, tapi ke Eropa, Milan ingin sekali pergi ke Milan, persis sesuai dengan namanya sendiri.
Kini usianya sudah lebih dari tigapuluh tahun dan belum ada satupun wanita yang bisa mampir di sisinya untuk menjadi pendamping hidupnya. Bukan karena selera Milan yang terlalu tinggi, tapi mereka yang lebih banyak mundur sendiri lantaran banyak orang tua dari para gadis itu yang tidak memperbolehkan anaknya di bawa pergi hingga ke LA. Orang tua mereka takut anak mereka akan terkontaminasi dengan budaya barat yang sudah di elu-elukan kebebasannya. Mereka takut anak mereka akan berubah.
Milan sempat berpikir untuk mencari istri seorang wanita Asia saja jika dia tidak bisa menemukan wanita Indonesia disini. Meskipun banyak dari mereka yang jumlahnya jutaan disini. Hanya saja, kebanyakan mereka sudah memiliki keluarga dan memilih untuk berkarir keluar negeri. Fenny salah satu contohnya, rela meninggalkan anak dan suaminya setelah satu tahun pernikahan mereka hanya untuk mengejar karirnya sebagai manager di salah satu perusahaan Research. Pulangnya tiga bulan sekali dan hanya bisa menghabiskan waktu selama tiga hari saja bersama dengan keluarga kecilnya itu.
Milan tidak ingin seperti itu. Milan ingin sekali kembali ke negaranya setelah sekian tahun hidup disini dan menghabiskan banyak waktunya di belakang meja kantornya sebagai seorang Direktur dan sesekali pergi minum bersama dengan teman-temannya. Padahal dulu Ayahnya selalu mewanti-wanti agar tidak terjerumus dengan hal-hal yang bisa merusak kesehatan dan budaya-budaya yang sebelumnya tidak pernah dia ikuti sama sekali. Pergi ke acara pesta bujang temannya yang besok akan menikah, minum-minum utuk melepas penat karena pekerjaan dan masalah kantor, berlibur dengan beberapa temannya ke pantai Miami yang selalu di penuhi dengan gadis-gadis cantik berbikini minim.
Seharusnya memang Milan bisa menolak semua itu, hanya saja tahap awal adaptasi kehidupannya LA membuatnya harus mengikuti alur yang sudah menjadi keseharian orang-orang disini.
Padahal, keinginan terbesarnya saat ini adalah memiliki istri, dua orang anak laki-laki dan mereka akan berjalan-jalan keseluruh pelosok kota Batu yang kata orang sekarang sudah berbeda dari dua puluh tahun lalu. Milan akan memperkenalkan budaya Indonesia pada anak-anaknya, juga mengajak mereka naik gunung dan berlibur kesemua tempat wisata yang ada di Malang. Tentu saja Ayah dan Ibunya tidak boleh terlewat.
"Papa, Kak Dino nih nyebelin..."
Sudah terbayang bagaimana kelak anak-anaknya nanti akan ramai bercanda, berdebat dan bertengkar di dalam mobil saat mereka sedang jalan-jalan di seluruh jalanan kota Malang. Milan juga sudah memikirkan siapa nama-nama untuk calon anaknya kelak. Milan sudah membayangkan betapa mesranya kelak antara dia dan istri pilihan ibunya. Dengan berbekal kalung berlian di tangannya itu, Milan berjanji akan membahagiakan dia.

Malang

"Sudah siap ?"
Berkali-kali Ibunya mengecek 'atribut' yang dipakai anak yang sudah bisa membanggakannya itu. Didepan sudah ada kelima saudaranya beserta isri-istri mereka. Juga Retno, adik bungsunya yang sudah lebih dulu menikah setelah dia lulus S1 Hukum Internasional. Rasa bangga menyelimuti wajah Milan, sekali lagi ditatapnya wajah adik yang selalu di belanya itu. Sejak Retno kecil, Milan yang selalu membiayai sekolah adiknya itu, hingga dia lulus S1 di Universitas Brawijaya.
"Semoga sukses dan berhasil, Aamiin," bisik Retno seraya merangkul bahu kakaknya.
Milan hanya mampu membalas bisikan adiknya dengan senyum hangat. Ini adalah pertunangannya yang terakhir, sudah beberapa kali Milan di jodoh-jodohkan oleh saudara-saudaranya, Ibunya, maupun Ayahnya, dan semuanya tidak ada yang bisa menerima Milan lantaran pekerjaannya dan domisilinya. Sekalipun ada yang mau di peristri Milan, belum apa-apa keluarga gadis itu sudah menjadi penuntut dan dengan terpaksa keluarga Milan mengakhiri hubungan pertunangan itu secepat kilat. Mereka juga tidak ingin anaknya hanya di manfaatkan hartanya saja dan tidak bisa bahagia.
"Ibu sudah mempertimbangkan bibit, bebet dan bobotnya. Meskipun ayah kita hanya seorang sopir puso, tapi prestasimu dan pekerjaanmu mengalahkan pandangan mereka semua soal itu. Selamat ya," Jaki, kakak sulungnya, menyalaminya dengan tulus.
Dulu kakak sulungnya ini selalu saja menjadi pem-bully, mengalahkannya dalam segala hal. Bahkan sempat merebut pacarnya saat Milan duduk di kelas tiga SMP dan Jaki berada di kelas tiga SMA, sekarang kakaknya itu menikah juga dengan mantan pacar Milan. Sebagai seorang pegawai Bank swasta, setidaknya pekerjaan itu sudah di pandang bagus oleh semua orang disini. Lebih dari itu, jodoh memang tak akan lari kemana. Tinggal dirinya sendiri saja yang saat ini harus menetapkan dimana jodohnya berada.
Milan mengusap wajahnya, doanya benar-benar tulus dari dalam hati untuk mencari pendamping demi kebahagiaannya.



"Aaaapiiiii... Toloooooong.... tolooooonggg....!!"
Beberapa orang berlarian kearah mobil yang sedang di kendarai Milan, dengan panik Ayah Milan menyuruh Jaki membuka kaca mobil otomatis itu.
"Ada apa, Pak ?"
"Itu," Orang yang di tanya Ayah Milan menunjuk ke sebuah bentangan asap hitam yang membumbung tinggi ke langit. "Kayaknya ada yang kebakar itu di dalam. Soalnya saya nggak lihat ada yang keluar dari rumah itu, mobilnya berhenti disini saja, Pak. Mundur dulu, nanti orang-orang nggak bisa angkut airnya. Jalannya sempit,"
Secepat kilat Milan menggandeng tangan Ibunya dan membuka mobil Alpard-nya begitu saja. Di ajaknya Ibu, adik dan semua anggota keluarga yang taddinya berada di dalam mobil untuk keluar dan menepi. Perasaannya tidak enak sama sekali. Benar apa kata orang tadi, jalanan komplek ini sangat sempit, khas pemukiman warga di belakang pasar Pakis. Tidak ada kendaraan yang bisa masuk, semuanya parkir di luar dan mobil Milan sudah menghalangi jalan. Asap makin membumbung tinggi dan Jaki mulai memundurkan mobilnya.
Belum selesai kepanikan Milan melihat orang yang berlalu-lalang sedang mengangut ember-ember berisikan air, selang air dan beberapa cara ain untuk bisa memadamkan api dari tempat itu, jantung Milan di buat tersentak saat melihat Ibunya yang tiba-tiba jatuh terduduk dengan lemas.
"Bu!" seru Milan mulai lebih panik dari yang tadi.
"Oalah, Le... calonmu.... itu calonmu!"
Tangan Ibunya gemetar menunjuk seorang mayat gadis yang sudah gosong sedang di angkut menggunakan tandu oleh dua orang perawat rumah sakit yang barusa saja datang dengan Ambulance. Milan tidak tahu bagaimana cara Ibunya mengenali mayat itu, tapi saat tangis Ibunya mulai pecah dan bibirnya terus berkomat-kamit menyebut kata "Kalung... kalungnya itu di pakai... dia calonmu, Le,"
Heehhhh... Milan ikut-ikutan lemas seketika. Sementara orang-orang di sekelilingnya masih panik dengan api yang terus berkobar dan teriakan-teriakan histeris anak kecil yang ketakutan.