Friday, November 8, 2013

FROM WONDER MOTHER

Cerpen 

FROM WONDER MOTHER



Pondok Indah

Sengaja kumatikan Hp, sebisa mungkin kembali konsentrasi pada jalanan yang sedang  macet parah di depanku. Jam 17.25 WIB, setidaknya aku tadi sudah sempat mengeceknya di layar Handphone. Tanganku berusaha merogoh saku celana, berharap masih ada permen mint yang tersimpan disana. Aku perlu mengatasi kejenuhanku dengan padatnya lalu lintas di jalanan yang terkenal dengan real estate-nya. Kepalaku selalu menoleh ke arah kiri saat melewati jalanan ini, dimana ada layar elektronik berukuran sedang yang di letakkan di pinggir jalan raya, sebuah layar yang berisikan iklan promosi dari Bank Swasta. 

Bayanganku  kembali  menerawang, dua hari lalu kutemukan Ibu jatuh pingsan untuk yang kesekian kalinya. Rasa panik menyergapku. Adik-adikku sedang pergi bermain keluar. Sedangkan Ayahku  repot mengurusi warganya yang sedang labil dengan masalah sampah yang akhir-akhir ini menghantui komplek kami. Aku meruntuki diri, kenapa aku bukan laki-laki. Kalau saja aku punya sedikit otot yang berlebih, rasanya aku punya kekuatan untuk membopong Ibuku dan menidurkannya di kasur. 

Ibu belum juga sadar dari pingsannya. Aku makin panik dan segera ku telepon Ayah. Tapi seperti biasa, tidak ada jawaban. Ayahku benar-benar sibuk di hari minggunya. Dengan terpaksa aku mengiriminya SMS, kuberi tahu jika Ibu pingsan lagi. Dunia terasa menyeramkan saat ku dapati wanita baya ini terpejam menahan sakit yang hanya bisa di rasakannya sendiri. 

Satu bulan lalu saat Ibu masih seperti ini, pingsan setiap saat dan setiap waktu. Bahkan aku terpaksa berhenti dari tempatku bekerja hanya untuk menemani Ibu, merawat rumah, dan menjaga adik-adikku. Mereka masih kecil dan belum bisa di ajak memahami kondisi yang ada. Aku menyesali diri, kenapa Ibu harus bertemu dengan Ayah sangat telat, saat usiaku sudah 12 tahun dan Ibu membutuhkan pendamping hidup untuk membantunya menopang hidup juga tentunya. 

Aku menerima Ayah sebagai Ayah tiriku dan sejauh ini beliau benar-benar menganggapku seperti anaknya sendiri. Sejak melahirkan adikku yang laki-laki, kondisi Ibu sering lemah, bahkan  saat  itu Ibu mengalami pendarahan hebat. Aku justru menyalahkan diriku sendiri atas apa yang menimpa Ibu. Andai saja Ibu tidak menikah dengan Bapak kandungku di usia 15 tahun, pasti Ibu tak akan mengalami pendarahan hebat saat melahirkan adik laki-lakiku. 

Kupacu mesin motorku yang terus membelah di antara kerumunan kemacetan yang mengular. Deru mesin mobil dan knalpot motor yang bersalip-salipan denganku di Jalan Raya, membuatku makin mantap untuk cepat sampai di Rumah Sakit dan mendapati Ibu menyambutku disana. 

"Mbak, Ibu tadi habis di periksa lagi. Kata Dokter, Miomnya harus cepat-cepat di angkat!", Ranto sudah menyambutku di tempat parkir begitu aku sampai dan  mencantolkan helmku di gagang spion motor. 

Kuhembuskan  nafas. Tidak ada yang bisa kulakukan, aku hanya bisa mengangguk pada adik laki-lakiku itu. Usianya masih sepuluh tahun, tapi kondisi memaksanya untuk bisa memahami keadaan seperti ini. Wajahnya sedikit panik dan takut. Maklum, dia anak kesayangan  Ibuku, apa-apa yang dilakukannya harus bersama dengan Ibuku. Singkat kata, dia anak manja di antara kami. Yaitu aku, dia dan satu lagi adik perempuanku yang paling bontot. 

Sewaktu di Kantor  tadi, aku bercerita pada temanku tentang kondisi yang menimpa Ibuku. Temanku bilang kalau Ibuku  bisa sembuh dengan operasi pengangkatan Miom. Aku sendiri belum begitu paham tentang apa itu Miom. Banyak kutanyakan hal itu pada temanku. Katanya Ibunya dulu juga pernah  mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami Ibuku saat ini. Dan bagusnya, operasi itu berhasil. Ibunya sehat walafiat sampai saat ini. 

Ayah baru saja menemui pihak administrasi Rumah Sakit dan meletakkan form persetujuan operasi beserta rincian biayanya di atas meja begitu saja. Ibuku sedang terbaring lemah di atas kasur pasien. Jarum Infus terpasang di tangannya. Aku ingat tentang nenekku dulu sebelum beliau meninggal, dia begitu takut dengan jarum infus, bahkan menolak saat jarum itu menusuk kulitnya. Tapi dengan terpaksa diapun menerima. 

"Aku harus kuat meskipun aku tak mau. Aku harus sembuh dan kembali berada di samping kakekmu,"

Setidaknya itulah kata terakhir darinya yang masih kuingat sampai detik ini. Aku juga berharap Ibu sama seperti nenek. Berjuang melawan rasa sakitnya atau mungkin juga menahan rasa sakit itu. Ibu dan Nenek memiliki kemiripan, mereka tidak ingin menampakkan rasa sakit  itu pada orang-orang di sekeliling mereka. Bahkan padakupun  tidak. Kekuatan itu yang membuatku bisa bertahan  sampai saat  ini untuk membentuk  pribadiku menjadi seorang wanita yang dewasa dan mampu bertahan di antara kepanikan yang melanda. 

"Ayah masih ada simpanan. Kamu simpan saja uangmu. Masih banyak hal lain yang harus kita pikirkan dan  persiapkan," Dengan lembut Ayahku memasukkan ATM-ku ke dalam tas Gucci-ku lagi. 

Aku benar-benar merasa tak berguna sebagai anak. Tapi Ayah terus meyakinkanku kalau hidup kami tidak berhenti sampai disini saja. Masih banyak kebutuhan yang harus kami pikirkan. Aku paham  itu. Siang hari aku bekerja di sebuah BPR Syariah dan  malam  hari aku kuliah. Belum lagi aku harus merawat dan  menjaga adik-adikku, mengurus rumah di pagi subuh, menyiapkan  makan untuk keluarga sebelum aku berangkat kerja. Sedikit banyak kemandirianku terempa. Aku juga bisa merasakan betapa lelahnya Ibuku setiap hari. Menjalani perannya sebagai seorang Istri, Ibu dan wanita. 

Kini aku berada diposisi yang  hampir  sama dengannya. Aku belajar menjadi Istri dan Ibu, juga menempa diriku yang tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Wanita yang bisa bertanggung  jawab pada kehidupannya, sekelilingnya, dan juga masa depannya. Aku wanita dan aku perkasa. Terus saja aku mengulang-ulang kalimat itu di benakku. Berharap aku benar-benar menjadi wanita seutuhnya. Aku bisa dan aku mampu. 

"Cepat sembuh, Bu. Nai sayang Ibu.... jangan biarkan dunia kami gelap. Aku masih harus banyak belajar untuk bisa menjadi wanita yang kuat sepertimu dan seperti Ibu-ibu lainnya, yang bisa menggenggam dunia dengan telapak tangannya, juga memeluk dunia dengan senyumannya." Kupeluk dan kucium tangan Ibuku, terasa hangat. 

Tiba-tiba ku rasakan sebuah jemari menyentuh ubun-ubunku, saat ku angkat kepala, kulihat Ibu dengan senyumannya mengembang bijaksana. Kucoba tersenyum meskipun kurasakan airmataku mengalir deras di dalam dada saat melihatnya begitu lemah. 

" Wanita seutuhnya adalah wanita yang selalu mempedulikan sekelilingnya. Karena kamu wanita dan  tetaplah  menjadi  seorang wanita yang  perkasa untuk dirimu, untuk keluargamu dan untuk anak-anakmu," lirihnya.


Aku tersenyum, merasa yakin. Meskipun jasad Ibuku melemah, tapi hatinya tetap perkasa seperti yang ku tahu. 

-------END------

NP : This is for my wonder mother 

Sunday, November 3, 2013

MILAN

Cerpen
MILAN

 
Los Angeles, California

Bagaimanapun dia adalah seorang laki-laki normal yang selalu membutuhkan kehangatan wanita, untuk selalu duduk menemaninya, ada di sampingnya dan menghiburnya ketika penat terus saja menghampirinya. Keinginan terbesarnya hanyalah untuk membahagiakan ayahnya yang sudah empat puluh tahun menjadi sopir truck  puso. Sudah selama itu pula ayahnya menginginkan salah satu dari enam anaknya akan bisa membanggakannya di ranah dunia luas.
Ibunya hanya seorang buruh tani ketika itu, dan ketika Milan berusia duabelas tahun, keinginan terbesarnya adalah membelikan ibunnya sebuah cincin emas empat karat. Lama sudah waktu yang di butuhkannya untuk menjadi seperti sekarang ini. Dua hari lalu Milan sudah membuat  agenda kepulangannya ke Indonesia. Ditatapnya lekat-lekat salah satu angka di kalender itu. Denaknya sudah berteriak-teriak kata pulang saja.
Di tangannya tergenggam erat sebuah kalung berlian yang harganya selangit, Milan akan memberikan kalung itu pada calon istrinya kelak. Dia tidak peduli apa anggapan masyarakat, juga anak buahnya tentang seleranya atau apapun itu yang menyangkut dengan perjodohannya nanti saat dia pulang kampung.
"Malang..." gumamnya dengan desah nafas seolah-olah sedang merasakan sedang berkeliling di Kota yang sarat dengan ikon apel itu.
Sejatinya memang dia sangat merindukan kota kecilnya itu, kota yang sudah membesarkannya dan tumpah darahnya semasa menjalani hidup yang keras dan penuh lika-liku. Hingga pada akhirnya, sepuluh tahun lalu dari kota itu dia di hantarkan kesini, Los Angels. Meskipun mimpinya bukanlah kesini, tapi ke Eropa, Milan ingin sekali pergi ke Milan, persis sesuai dengan namanya sendiri.
Kini usianya sudah lebih dari tigapuluh tahun dan belum ada satupun wanita yang bisa mampir di sisinya untuk menjadi pendamping hidupnya. Bukan karena selera Milan yang terlalu tinggi, tapi mereka yang lebih banyak mundur sendiri lantaran banyak orang tua dari para gadis itu yang tidak memperbolehkan anaknya di bawa pergi hingga ke LA. Orang tua mereka takut anak mereka akan terkontaminasi dengan budaya barat yang sudah di elu-elukan kebebasannya. Mereka takut anak mereka akan berubah.
Milan sempat berpikir untuk mencari istri seorang wanita Asia saja jika dia tidak bisa menemukan wanita Indonesia disini. Meskipun banyak dari mereka yang jumlahnya jutaan disini. Hanya saja, kebanyakan mereka sudah memiliki keluarga dan memilih untuk berkarir keluar negeri. Fenny salah satu contohnya, rela meninggalkan anak dan suaminya setelah satu tahun pernikahan mereka hanya untuk mengejar karirnya sebagai manager di salah satu perusahaan Research. Pulangnya tiga bulan sekali dan hanya bisa menghabiskan waktu selama tiga hari saja bersama dengan keluarga kecilnya itu.
Milan tidak ingin seperti itu. Milan ingin sekali kembali ke negaranya setelah sekian tahun hidup disini dan menghabiskan banyak waktunya di belakang meja kantornya sebagai seorang Direktur dan sesekali pergi minum bersama dengan teman-temannya. Padahal dulu Ayahnya selalu mewanti-wanti agar tidak terjerumus dengan hal-hal yang bisa merusak kesehatan dan budaya-budaya yang sebelumnya tidak pernah dia ikuti sama sekali. Pergi ke acara pesta bujang temannya yang besok akan menikah, minum-minum utuk melepas penat karena pekerjaan dan masalah kantor, berlibur dengan beberapa temannya ke pantai Miami yang selalu di penuhi dengan gadis-gadis cantik berbikini minim.
Seharusnya memang Milan bisa menolak semua itu, hanya saja tahap awal adaptasi kehidupannya LA membuatnya harus mengikuti alur yang sudah menjadi keseharian orang-orang disini.
Padahal, keinginan terbesarnya saat ini adalah memiliki istri, dua orang anak laki-laki dan mereka akan berjalan-jalan keseluruh pelosok kota Batu yang kata orang sekarang sudah berbeda dari dua puluh tahun lalu. Milan akan memperkenalkan budaya Indonesia pada anak-anaknya, juga mengajak mereka naik gunung dan berlibur kesemua tempat wisata yang ada di Malang. Tentu saja Ayah dan Ibunya tidak boleh terlewat.
"Papa, Kak Dino nih nyebelin..."
Sudah terbayang bagaimana kelak anak-anaknya nanti akan ramai bercanda, berdebat dan bertengkar di dalam mobil saat mereka sedang jalan-jalan di seluruh jalanan kota Malang. Milan juga sudah memikirkan siapa nama-nama untuk calon anaknya kelak. Milan sudah membayangkan betapa mesranya kelak antara dia dan istri pilihan ibunya. Dengan berbekal kalung berlian di tangannya itu, Milan berjanji akan membahagiakan dia.

Malang

"Sudah siap ?"
Berkali-kali Ibunya mengecek 'atribut' yang dipakai anak yang sudah bisa membanggakannya itu. Didepan sudah ada kelima saudaranya beserta isri-istri mereka. Juga Retno, adik bungsunya yang sudah lebih dulu menikah setelah dia lulus S1 Hukum Internasional. Rasa bangga menyelimuti wajah Milan, sekali lagi ditatapnya wajah adik yang selalu di belanya itu. Sejak Retno kecil, Milan yang selalu membiayai sekolah adiknya itu, hingga dia lulus S1 di Universitas Brawijaya.
"Semoga sukses dan berhasil, Aamiin," bisik Retno seraya merangkul bahu kakaknya.
Milan hanya mampu membalas bisikan adiknya dengan senyum hangat. Ini adalah pertunangannya yang terakhir, sudah beberapa kali Milan di jodoh-jodohkan oleh saudara-saudaranya, Ibunya, maupun Ayahnya, dan semuanya tidak ada yang bisa menerima Milan lantaran pekerjaannya dan domisilinya. Sekalipun ada yang mau di peristri Milan, belum apa-apa keluarga gadis itu sudah menjadi penuntut dan dengan terpaksa keluarga Milan mengakhiri hubungan pertunangan itu secepat kilat. Mereka juga tidak ingin anaknya hanya di manfaatkan hartanya saja dan tidak bisa bahagia.
"Ibu sudah mempertimbangkan bibit, bebet dan bobotnya. Meskipun ayah kita hanya seorang sopir puso, tapi prestasimu dan pekerjaanmu mengalahkan pandangan mereka semua soal itu. Selamat ya," Jaki, kakak sulungnya, menyalaminya dengan tulus.
Dulu kakak sulungnya ini selalu saja menjadi pem-bully, mengalahkannya dalam segala hal. Bahkan sempat merebut pacarnya saat Milan duduk di kelas tiga SMP dan Jaki berada di kelas tiga SMA, sekarang kakaknya itu menikah juga dengan mantan pacar Milan. Sebagai seorang pegawai Bank swasta, setidaknya pekerjaan itu sudah di pandang bagus oleh semua orang disini. Lebih dari itu, jodoh memang tak akan lari kemana. Tinggal dirinya sendiri saja yang saat ini harus menetapkan dimana jodohnya berada.
Milan mengusap wajahnya, doanya benar-benar tulus dari dalam hati untuk mencari pendamping demi kebahagiaannya.



"Aaaapiiiii... Toloooooong.... tolooooonggg....!!"
Beberapa orang berlarian kearah mobil yang sedang di kendarai Milan, dengan panik Ayah Milan menyuruh Jaki membuka kaca mobil otomatis itu.
"Ada apa, Pak ?"
"Itu," Orang yang di tanya Ayah Milan menunjuk ke sebuah bentangan asap hitam yang membumbung tinggi ke langit. "Kayaknya ada yang kebakar itu di dalam. Soalnya saya nggak lihat ada yang keluar dari rumah itu, mobilnya berhenti disini saja, Pak. Mundur dulu, nanti orang-orang nggak bisa angkut airnya. Jalannya sempit,"
Secepat kilat Milan menggandeng tangan Ibunya dan membuka mobil Alpard-nya begitu saja. Di ajaknya Ibu, adik dan semua anggota keluarga yang taddinya berada di dalam mobil untuk keluar dan menepi. Perasaannya tidak enak sama sekali. Benar apa kata orang tadi, jalanan komplek ini sangat sempit, khas pemukiman warga di belakang pasar Pakis. Tidak ada kendaraan yang bisa masuk, semuanya parkir di luar dan mobil Milan sudah menghalangi jalan. Asap makin membumbung tinggi dan Jaki mulai memundurkan mobilnya.
Belum selesai kepanikan Milan melihat orang yang berlalu-lalang sedang mengangut ember-ember berisikan air, selang air dan beberapa cara ain untuk bisa memadamkan api dari tempat itu, jantung Milan di buat tersentak saat melihat Ibunya yang tiba-tiba jatuh terduduk dengan lemas.
"Bu!" seru Milan mulai lebih panik dari yang tadi.
"Oalah, Le... calonmu.... itu calonmu!"
Tangan Ibunya gemetar menunjuk seorang mayat gadis yang sudah gosong sedang di angkut menggunakan tandu oleh dua orang perawat rumah sakit yang barusa saja datang dengan Ambulance. Milan tidak tahu bagaimana cara Ibunya mengenali mayat itu, tapi saat tangis Ibunya mulai pecah dan bibirnya terus berkomat-kamit menyebut kata "Kalung... kalungnya itu di pakai... dia calonmu, Le,"
Heehhhh... Milan ikut-ikutan lemas seketika. Sementara orang-orang di sekelilingnya masih panik dengan api yang terus berkobar dan teriakan-teriakan histeris anak kecil yang ketakutan.

Kuburan Sang Mimpi

Cerpen
Kuburan Sang Mimpi


Mataku  masih sering  salah melihat, telingaku masih sering salah mendengar. Kesemuanya, Aku masih sering salah menilai. Karena aku bukanlah aku. Karena aku masih ada yang lain.
Aku sudah menjadi kriminal terhadap diriku sendiri. Aku yang plin-plan dan tak mengenal kata pendirian. Aku sudah membunuh diriku yang ini, diriku yang penuh mimpi, penuh asa dan penuh hayal.
Diriku yang lain menghasutku dan memasukkanku dalam ruangan terang. Teramat terang, seperti ada ratusan  lampu yang  menyala dalam sebuah kotak  yang sempit. Aku di paksa untuk memahami dan  menerima dengan  kaku segala hal yang namanya logis.
Dengan bersedih hati, kubuang diriku yang ini. Kukubur hidup-hidup dan ku tancapkan nisan bertuliskan MIMPIKU. Diriku yang ini sudah mati, aku sudah lupa sejak kapan sudah menebas habis hayatnya tanpa kompromi.
Kini, di pojokan onggokan tanah ini, tangisku menyeruak seperti ombak yang berderu menyerang pantai. Air mataku  menerjang layaknya tsunami ketika kulihat orang-orang di luar sana tertawa-tawa dengan  riang sambil memegang mimpi yang sudah bisa di dapatkannya. Sedangkan aku, masih berlutut disini dengan jutaan penyesalan yang tak bisa di tutupi.
Kenapa diriku yang lain sangat kejam ? apa salahku ? aku hanya ingin bermimpi. Tapi hasutannya menggodaku untuk segera mengakhiri harapan yang sejak dulu sudah membesarkanku.
Sekarang, aku sedang bersama diriku yang lain, dia yang sebelumnya kulihat biasa saja, kini tertawa pongah di atas kubur Sang Mimpi. Bajunya hitam legam seolah sudah siap dengan acara mengunjungi  makam  ini,  yang  entah berapa kali aku datang dalam setahun, sebulan, sehari atau bahkan setiap jam, menit dan detik.
"Jangan di tangisi lagi," katanya selembut permen kapas.
Bisa ku rasakan dia tersenyum  meskipun itu di dalam  hati.  Mentertawai kebodohanku, mungkin. Atau memang sengaja sejak awal dia sudah berniat menggiringku untuk melihat Sang Mimpi ini mati.
"Dulu, aku mengatakan  bahwa aku adalah aku. Tapi kini, aku malah melihat diriku yang ini terkubur seperti ini, sudah berapa lama dia mati ?" tanyaku seolah berusaha mengingat.
"Lama sekali, sangat lama. Aku saja lupa, apalagi kau yang sudah membunuhnya !"
Lagi-lagi aku di buat menyesal dengan ucapannya. Aku memilihnya ketika itu, karena aku sudah terlalu lelah menaruh  harap dan menumpuk mimpi-mimpiku didalam deretan lemari berdebu yang tak pernah bisa kubuat berguna.
"Kau hadir baru-baruan saja ketika itu. Saat aku sudah menginjak usia sepuluh tahun. Aku mulai mengenalmu yang bijak dan penuh ketegasan," kataku sedikit bergumam.
"Kau menyesal ?" tanyanya tetap datar.
Kepalaku  mengangguk. "Aku kehilangan diriku yang ini. Aku kehilangan diriku yang polos dan penuh mimpi. Lalu ketika kau datang, kau memaksaku untuk ikut bersamamu dan menjelajah dunia luar. Dunia yang belum ku kenal dan dunia yang sebelumnya belum pernah ku rasakan aura jahatnya,"
"Kau harus mengerti, bahwa dunia bukan  hanya berkutat pada dirimu yang sudah mati. Tapi dunia jauh dari segala hal yang kau tahu waktu itu,"
"Tapi harusnya aku masih tetap bisa menjadi aku."
"Kau akan tetap menjadi anak berusia 10 tahun jika masih tetap menjadi dirimu dan Si Mati ini. Kau perlu diriku dan kau membutuhkan aku waktu itu, sekarang dan dimasa depan,"
Aku ingin kabur saat ini juga. Tapi tentu tidak bisa. Diriku yang lain ini benar-benar seperti setan yang selalu mengekorku. Dia ada di saat aku membutuhkannya. Dia ada disaat aku mulai hilang arah. Dia ada disaat aku tak pernah bisa mengendalikan diriku.
"Kau tak perlu lari. Karena aku adalah bagian dari dirimu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan, tapi aku  juga akan  melakukan apa yang seharusnya kulakukan," katanya saat kakiku sudah melangkah pergi meninggalkannya.
Senja makin kelabu saja di mataku. Tumpukan awan putih di langit barat daya sana makin membuatku  murung. Mengingatkan akan diriku. Awan itu adalah diriku yang mati tadi, tersingkir dan teronggok begitu saja. Kalah dengan  Mega yang sinarnya berpendar menebar ke segala arah. Sama dengan  diriku  yang lain  tadi, mendominasi hidupku dan menjadikanku manusia yang lain.

Sunday, October 27, 2013

Si Mas Burung Elang


Cerpen
Si Mas Burung Elang



Yogjakarta, Mei 2013

          Sampai saat ini aku masih kesulitan bernafas jika melihatnya. Padahal masa itu sudah lewat lebih dari lima tahun yang lalu, tapi tetap saja, saat wajahnya melintas di depan mataku, dadaku langsung sesak seperti digiring ribuan domba masuk kekandang. Rupanya memang sudah memudar daripada dulu ketika kami masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Badannya masih sehat dan wajahnya masih manis berseri. Tapi kini, semua seolah terganti dengan raut seorang pekerja keras yang siap melakukan apapun untuk keluarganya. Salah, istri kesayangannya. 

***

Yogjakarta, Januari 2008

          "Aku kirimin materinya 'ntar lewat email ya, Ren!" ujar Hardi sambil memasukkan buku-buku catatannya kedalam tas.

            "Oke, sip. Jangan lupa di sertain pesenan gue yang kemarin, ya?"

           "Siap, Boss!" Hardi melangkah pergi dari sisiku setelah panjang lebar kami berdiskusi masalah presentasi Politik Hukum. Aku belum bisa menguasai materi itu sama sekali, karena itu aku membutuhkan otaknya untuk masuk dalam kelompokku. Setidaknya aku harus mencari 'aman' agar nilai-nilaiku bisa selamat dari kekejaman Pak Mastur yang selalu tanpa ampun dengan sistem pemberian nilainya yang kadang di luar logika Mahasiswa. 

           Di sebelahku ada Nia yang selalu setia menemaniku, biarpun kami berbeda jurusan. Aku ada di Fakultas Hukum dan dia ada di Fakultas Sastra Indonesia. Tapi anak ini tak pernah absen dari jadwal kebersamaannya denganku. Banyak hal yang selalu kami bicarakan sebagai sahabat, layaknya dua anak perempuan yang saling berteman dan mulailah segala hal yang berada di dunia ini menjadi topik bahasan kami. Terutama masalah laki-laki, cinta dan idola. Pembahasan mengenai kampus atau mata kuliah, selalu menjadi yang paling bontot. Mereka tidak pernah mendapat tempat paling utama saat ada dua perempuan membicarakan Sang Idola

           "Coba lihat!" kataku seraya menunjukkan hasil foto yang baru kuambil kemarin. 

       "Yang mana anaknya?" tanyanya antusias sambil merebut kamera digital dari tanganku.

          "Itu, yang pake kaos biru," sahutku cuek dan lebih fokus mencari posisi pe-we di lantai teras gedung bertingkat tiga ini.

          "Oh, yang ini ?" tunjuknya, sedangkan matanya masih juga menyelidiki sosok dalam foto itu dan tak memperhatikanku yang sudah duduk lesehan di bawahnya.

        "Manis juga," gumamnya, "sekarang gue udah tahu selera lo kayak gimana, Ren. Ternyata yang tambun-tambun model gitu. Tapi manis kok anaknya, suwer deh!" katanya seraya mengembalikan kamera digitalku lalu duduk di sampingku.

           Sama-sama lesehan dan menikmati udara sore di balkon samping kelas. Ini yang selalu kami lakukan sepulang kuliah, duduk-duduk bercengkerama dulu hingga toa di Masjid kampus kami menyerukan adzan Margib atau salah satu OB kampus mendatangi kami sambil mengatakan : "Permisi, Mbak. Mau di Pel!"

            "Itu sebabnya gue nggak pernah bisa konsen kuliah kalau ada dia di kelas," kataku setelah mematikan kamera, lalu memasukkan kembali kedalam tas. 

            "Yaaah, itu artinya lo berharap dia nggak masuk, dong. Jelek banget..."

         "Habis gimana, dong. Sejak dia konversi dan masuk di kelas gue, dunia gue yang tadinya adem ayem langsung berubah, Ni. Gue yang tadinya kuper abis, langsung berubah drastis. Jadi genit, jadi sok ceria, jadi banyak ketawa, jadi semangat ke kampus, tapi begitu gue ke kampus dan ngelihat dia, ampun... kaki gue langsung lemas dan gue nggak sanggup masuk kelas."

           Nia menghela nafas. Sadar kalau aku terlalu berlebihan. Tapi itulah aku, tidak ada yang berlebihan dalam kamusku, kupikir semua sama saja. Bahkan ketika aku bercerita, teman-temanku pasti akan berpikir kalau aku barusan sedang menghafal sebuah dialog drama. 

            " Udah pernah ngomong ama dia nggak sih?" tanya Nia sambil menatap kelangit sore yang mulai muncul semburat jingga. 

            Aku menggeleng. Nia hanya melirikku dari ekor matanya.

       "Coba ngomong, 'napa, Ren. Biasanya 'kan lo yang suka nyaranin orang buat berani ngomong duluan. Bahkan lo bilang, dari kesekian cowok-cowok yang pernah lo pacarin, semuanya tuh lo dulu yang nembak mereka. Makanya, kali ini coba lo tembak Si Mas Burung Elang itu!"

             Mana ada sih Burung Elang tapi tambun ?

          Aku tersenyum dalam hati. Sekalipun aku tak pernah menyebut anak laki-laki  dalam fotoku ini dengan yang seperti Nia sebutkan itu. Sebutan untuk "penyamaran" dalam dunia fantasi anak cewek itu memang sangat perlu, apalagi menyebut seorang laki-laki yang menjadi pujaan hatinya. 

          "Dia single?" tanya Nia tiba-tiba.

          Aku tersentak. Aku tak pernah tahu mengenai orang itu. Sudah hampir satu tahun aku mengenalnya dan kami duduk dalam satu kelas yang sama. Tapi aku sama sekali tidak tahu mengenai dirinya. Bagaimana kehidupannya, rumahnya, keluarganya, kesukaannya, bahkan yang paling dasar, dia masih jomblo atau sudah punya pasangan ?

          Lagi-lagi aku menggeleng. "Gue nggak tahu,"

        "What?" Nia merubah posisi duduknya dan langsung menghadapku, "Serius?" tanyanya dengan memainkan kepala seperti burung beo mengoceh.

             "Ayolah, Ni.... sejak kapan sih gue minat ama urusan orang lain?"

            "Ya tapi ini permasalahannya tuh dia Si Mas Burung Elang... dia itu cuma idola lo atau lo beneran naksir dia, nggak, sih?"

           "Gue nggak tahu, yang jelas kalau ngelihat dia, bawaannya badan gue lemes mulu. Apalagi waktu dia senyum. Dunia gue rasanya berhenti dan gue jadi.... lebay!" kepalaku menunduk lesu. 

          Lagi-lagi Nia menghela nafas, sepertinya merasa gemas denganku. Selama ini aku selalu bercerita tentang orang itu di hadapannya. Sedangkan aku masih tak tahu mengenai perasaanku. Sedikit miris memang, tapi itulah aku. Kadang jelas dan kadang tidak jelas. Entahlah, jelasnya aku masih bingung. Di tambah lagi, aku tidak tahu menahu tentang dia. 

            "Kalau seandainya dia ada rasa ama lo?"

             "Kayaknya itu nggak mungkn deh, Ni,"

      "Apapun bisa terjadi di dunia ini, Re.... na!" Nia memelankan suaranya dan pandangannya terlempar ke belakang punggungku.

          Pembicaraan kami segera berhenti. Kepalaku langsung menoleh kebelakang. Seseorang sudah berdiri di sana. Mataku terbelalak kaget. Tubuhku langsung lunglai seperti sayuran yang terlalu lama disimpan di dalam kulkas. Dingin dan layu. 

      "Des... ta...." aku tergagap. Jelas bisa kurasakan mataku membulat dan membesar seperti mata ikan koki salah menelan makanan.

          Dia mendekat. "Ren, bisa jawab gue jujur, nggak ?" tanyanya tiba-tiba dengan suara pelan sampai telingaku sedikit kesulitan untuk mendengarnya. 

           Dug, dug, dug, dug, dug .... 

          Jantungku berdegup kencang hingga aku bisa mendengar jelas getaran itu sampai di telinga. Sedangkan dia masih terus berdiri di tempatnya. 

           Puuukkk!!

          Nia menepuk bahuku. Kesadaranku langsung pulih seketika. Kusadari kalau ini bukan mimpi dan yang di hadapanku ini benar-benar dia. Pertanyaan barusan tadi itu adalah benar. Dia meminta apa ? 

          " Sini deh, duduk di sebelah gue!" kataku yang seketika sudah bisa menguasai diri.

          Kutepuk-tepuk tempat kosong tepat di sebelahku. Seperti bocah enam tahun yang menginginkan kue temannya, dia langsung datang dan duduk di sebelahku. Ini untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir sejak aku putus dengan pacarku, aku duduk dengan seorang anak laki-laki lain hingga sedekat ini. Bisa kurasakan lenganku menempel di lengannya. Nyawaku seperti tercabut dari ubun-ubun saat kulihat matanya ternyata sedang memandangku. 

          Oh My God .... aku benar-benar sudah mati dan kini sedang berada di Surga.

             "Apa yang harus gue jawab?" tanyaku memulai percakapan.

          Nia duduk diam di sampingku. Gayanya sok cuek dan tidak peduli denganku yang sedang kebat-kebit di buat meriang oleh pesona manusia tambun tapi nggak gendut di sebelahku ini.

          "Gimana sih caranya nunjukin rasa sayang ke orang yang kita sayang?" tanyanya to te point.

          "Hah?" 

          Menunjukkan rasa sayang ke orang yang di sayang? apa dia nyindir gue? gue kan suka ama dia, sayang malah. Tapi gue nggak bisa nunjukin ke dia kalau gue sayang ama dia...

          "Harus banget gue jawab, ya?"

          "Iya, dong!"

          "Maunya jawaban model gimana?" tanyaku lagi. Pertanyaan bodoh!

          Bukan cara yang bagus memang untuk mendekati seseorang, sedangkan kita sudah bawel duluan dengan berbagai pertanyaan yang tidak segera di jawab. Pendek kata, cowok lebih suka cewek yang pikirannya langsung tepat sasaran dan nggak lemot. Dan aku sudah melakukan kesalahan pertama. Lemot !

          "Kalau kamu sendiri, gimana?" 

          Dug, dug, dug, dug, dug .... jantungku berdebar makin keras. 

           " Kalau gue ..."

          Aduuuh, rasa sayang gue ke lo itu ya kayak sekarang ini... gue.... aahk !

          Aku terkejut, rasanya seperti di sengat lebah. Perih, ngilu, langsung panik seketika. Tiba-tiba saja kulihat tangan kanannya sudah merangkul bahuku dan mengguncangnya sedikit. Kepalaku kaku dan aku tak bisa menoleh ke arahnya. Bisa kubayangkan betapa bodohnya aku saat ini. Duniaku benar-benar berhenti. Aku mati !

          "Jadi gimana?"

          "A...pa?" aku mulai berubah gagap.

       "Jawab jujur, dong !" jawabnya tetap dengan suara lembut yang terus menggelitik telingaku.

          "Iya .... gue ... pokoknya ... cara nunjukin.... rasa .... sayang.... ke orang yang... disayang ... itu.... kayak.... sekarang ... ini.... antara.... elo...."

           "Sayang!!"

          Jantungku dikejut sekali lagi, kepalaku dan kepalanya sontak menoleh ke satu sisi, tiba-tiba saja di lengannya yang satunya bergelayut seorang gadis dengan wajah indo dan hidung mancungnya yang menjulang seperti penangkal petir. Gadis itu tersenyum dengan riangnya seolah senang bisa menemukan sosok yang ada di sebelahku ini, dengan tangan Si Mas Burung Elang yang masih menyangkut di bahuku. 

          "Hey..."

        Dengan vulgarnya dia langsung mencium kening gadis itu tepat di depan mataku. Hatiku tertohok sakit dengan pemandangan itu. Tapi aku bisa apa ?

          "Ren, kenalin. Ini Maris!" katanya seraya menunjuk gadis indo itu.

         "Hay.... Rena!" kataku sambil mengulurkan tangan ke arah cewek indo itu dan tetap dengan senyum yang sama, dia menjabat tanganku dengan hangat. Aku harap dia tidak melihat gurat cemburu yang membayang disetiap jengkal wajahku.

           "Maris, ini teman sekelasku. Rena. Dia juga sahabatku!" ujarnya sambil mengguncang bahuku sekali lagi dengan lengan kokohnya yang masih bersarang di situ.

       Mataku membulat lagi. Kali ini sebesar bola pimpong atau sebesar bolam listrik di taman, yang jelas aku terkejut saat dia menyebutku 'sahabat'. Begitukah ?

       "Iya, tahu kok," dengan polosnya gadis cantik indo itu mengangguk. "Ayo pergi sekarang!" katanya seraya bangkit dari duduknya, lalu menarik tangan orang yang sedang memelukku ini. 

          "Ren, gue pergi dulu, ya!" ujarnya sambil menepuk celananya untuk menghilangkan debu yang menempel disana.

          Aku mengangguk bodoh. "Oke," Tanpa beban dan perasaan, dia meninggalkanku begitu saja. Mataku masih mengerjab seperti bintang tua yang siap pudar. Seperti mimpi saja rasanya adegan barusan. Tapi ini bukan mimpi, karena wangi parfumnya masih menempel di lengan kiriku. Wangi Opium. 

            "Heh, udah dong ... orangnya udah pergi ini!" Suara Nia menyentakkanku.

          Pandanganku kembali galau lagi. Akan lebih baik kalau yang barusan itu hanya mimpi, jadi akan lebih baik kalau aku hanya delusi. Tapi justru itu, ternyata sebuah kenyataan yang tak disangka-sangka akan begini ceritanya. Sangat aneh dan terlalu mendadak.

          "Si Mas Burung Elang ..." gumamku sedih.

          "Uuh... cayang .... sini Mami peluk!"

          Selalu begitu, Nia berusaha menghiburku dengan candaannya. Tapi tetap saja, wangi Opium itu belum bisa hilang dan masih terus menggoda indra penciumanku. Sakit rasanya jika harus terus menghirup aroma ini. Karena aku sangat menyukainya. Lebih dari sebuah delusi. Lebih dari sebuah rasa yang sulit untuk di mengerti.

***

Yogjakarta, 11 Juni 2013

           "Mas Desta, ini !" kataku sambil meletakkan sebuah tas kecil di atas menjanya. 

          Sengaja dia kupanggil dengan sebutan 'Mas' dan bukan menyebut namanya langsung. Aku menghormatinya sebagai laki-laki yang sudah menikah dan dia juga menjabat sebagai Manager lain divisi denganku. 

          Tangannya langsung berhenti dari kegiatan mengetik. Dilemparkan pandangannya ke arahku yang masih juga berdiri mematung di depan mejanya. 

          "Apa ini, Ren?" tanyanya sambil melongok isi dalam tas kecil itu.

          "Selamat Ulang Tahun, ya... maaf... telat ngucapin dan telat ngadonya,"

        Tanpa kuduga, dia tak bereaksi. Hanya diam dan dan langsung melipat tas kecil itu dengan hati-hati lalu di dekapnya. 

          "Thanks banget, ya!"

          Guratan wajah-wajah tua sebelum waktunya tergambar jelas di kulitnya yang halus tapi sudah sedikit keriput. Senyuman itu bahkan kurang menarik lagi di mataku, tapi entah kenapa, hatiku tetap saja masih sesak jika melihatnya tersenyum. Setiap kali memandang wajahnya, selalu saja ada perasaan yang sejak dulu belum bisa di ungkapkan. Dan perasaan itu bertambah hari, bertambah bulan dan bertambah tahun malah semakin menjadi.

          Didepannya setiap waktu seperti ini, selalu saja aku ingin mengatakan : " Ijinkan kita untuk bersama. Aku akan merawatmu, aku tak akan menyuruhmu bekerja hingga terlalu lelah seperti ini. Aku tak akan memintamu untuk membelikanku cincin berlian puluhan karat. Aku juga tak akan memintamu untuk memenuhi segala keinginanku. Kecuali satu, waktu, itu saja... "

          Kubalikkan badan. Tak mampu aku berlama-lama menatapnya yang seperti itu. Tidak ada lagi Desta yang dulu. Kini di depanku hanya ada Desta seorang Manager Penerbitan yang selalu bekerja keras siang dan malam. Usai menjadi manager di kantor, dia akan menjadi seorang Guru Privat Bahasa Inggris di sebuah bimbel milik temannya. Kemudian membagi waktunya juga sebagai seorang makelar mobil. Setidaknya sekarang dia sudah hidup dengan lebih baik dengan berbagai macam pekerjaan sampingan. Tapi tetap saja, semakin hari aku tak melihat badannya semakin terlihat baik, tapi malah memburuk. 

          Sejak anaknya yang masih berusia satu tahun meninggal karena penyakit kelainan jantung, kehidupannya mulai berubah drastis. Maris mulai berubah menjadi orang lain yang tidak di kenali Desta. Bahkan sebelum itupun Desta sudah tidak bisa mengenali Maris yang dulu. Maris yang aku kenal juga, Maris yang penuh senyum. Maris yang kami kenal saat dia masih pacaran dengan Desta. Tapi kemudian Maris menjadi sangat mengerikan setelah mereka menikah. Dia mulai bertingkah dengan gelar suaminya yang hanya S1 Sarjana Hukum dan bekerja di sebuah Kantor Pengacara. Hingga tahun berikutnya Desta pindah bekerja karena mendapat pekerjaan yang lebih layak dengan bakat dan tentu saja, gaji yang dia inginkan untuk menyenangkan istrinya.

            Sedangkan aku sudah lebih dulu berada di Kantor ini, hanya saja kami berbeda bagian. Semua ini berkat Nia yang sudah memasukkan Desta disini. Hingga sampai detik ini aku masih bisa melihatnya. Aku merindukan Desta yang dulu. Desta yang masih merdeka. Desta yang masih kuat dan Desta yang ceria dalam kepribadiannya yang introvert di mata teman-teman yang lain. Desta yang pernah memelukku dan Desta yang masih bisa kusebut Si Mas Burung Elang.

ME & KHO



Cerpen
ME & KHO


Pegang gitar, di kata jari-jari gue terlalu pendek. Pegang drum, katanya gue nggak ada bakat. Pegang Bass, kata mereka, gue ini nggak cocok. Jadi vokalis, katanya suara gue terlalu ancur. Terakhir, gue nyoba belajar keyboard, tapi yang ada malah di ledek sama Emak gue, dia bilang kalau gue ini nggak becus.
Gue suka musik. Dan gue sering iri pada semua orang yang bisa bermain musik. Gue nggak pernah percaya sama yang namanya bakat. Karena bakat bisa di kalahkan dengan rajin belajar. Dan terlebih lagi, gue paling suka nyanyi. Waktu masih umur sepuluh tahun, gue pernah menang lomba karaoke se-RT di kampung gue.
Tapi sayang, kemenangan itu pada akhirnya nggak berlaku lagi untuk saat ini. Emak gue, orang tua gue sendiri malah bikin down mental gue waktu bilang suara gue hancur lebur.  Emak gue lebih banyak membanggakan adik-adik gue yang penuh prestasi. Dari perastasi jadi runner up taekwondo dan ada juga yang punya bakat jadi atlet volly. Sedangkan gue?
          Gue payah...
          Gue lemah...
          Gue selalu kalah...
          Sebaik apapun yang gue usahain, orang tua gue nggak pernah melihat gue. Karena itu, gue nggak tahu, apa itu yang namanya MINAT dan BAKAT dalam sebuah kolom survei atau formulir pendaftaran seuatu organisasi.
          Kemarin, gue bener-bener di bikin nangis sama Emak. Hati gue sakit. Gimana mungkin dia bilang  kalau gue ini nggak bisa di banggakan? Dan itu yang terus-terusan bikin gue berpikir kalau gue ini bener-bener payah.
          Tapi, belakangan ini gue kenal satu anak di komunitas jepang yang gue ikuti juga, dia anak baru gue rasa. Namanya Kho. Dia cewek dan gayanya tomboy abis. Sebelum gue tahu dia masuk di komunitas gue, rasanya gue pernah lihat anak itu di Plaza yang ada di dekat rumah gue. Gue menatap anak itu lama. Gue taksir usianya dua tahun di bawah gue. Tapi ternyata, kami sepantaran.
          Beberapa  hari ini gue banyak cerita sama Kho. Gue cerita masalah gue baik di rumah atau di kampus. Dengan sangat saktinya, dia bisa tahu kalau gue ini orang yang sensitif. Iya, itu benar. Dia juga bilang kalau gue bukan orang yang bisa di tekan. Dan gue ini Plegmatis. Kami jadi teman dekat. Gue rasa sih gitu. Nggak tahu kenapa kepala gue rasanya ringan banget kalau cerita sama Kho. Dia pendengar yang baik dan lebih mengutamakan solusi dari pada berkutat menganalisa masalah gue. Dia pintar. Super pintar gue rasa.
          Suatu hari, Kho nanya ke gue, jika disuruh milih antara objek dan bayangan, mana yang gue pilih. Dengan yakinnya, gue jawab Objek.
           “Orang tanpa bayangan akan seperti zombi. Berjalan tanpa arah tujuan. Hampa dan sendirian. Dia tidak tahu kalau sudah mati,”
          Gue memperhatikan dia baik-baik, kemudian dia melanjutkan,  “Bayangan akan selalu mengikuti objeknya. Menjadi penanda kalau objek itu nyata. Bayangan  tanpa objek, dia akan menjadi ilusi. Tapi aku suka menjadi bayangan. Aku akan selalu mengikutimu kemanapun. Dan aku akan selalu membantumu, itupun kalau kamu butuh bantuanku”
          Begitulah Kho, terkadang ucapannya sangat filosofis. Tapi justru itu yang kusuka darinya. Jujur meskipun agak lebay. Selain itu pula, gue baru tahu kalau Kho itu seorang penyuka sesama jenis. Tapi aku  tidak peduli, aku tidak mau terlalu ikut campur dengan urusannya. Aku hanya akan menjadi aku dan dia akan tetap menjadi dia. Meskipun dia menyebut bahwa aku adalah objek dan dia adalah bayanganku.
           Setelah berkata seperti itu, sejak seminggu ini gue mulai aktif belajar musik di studio sewaan dengan Kho. Aku langsung memilih drum. Aku suka gebukan suara drum yang menghentak. Seolah aku bisa meluapkan stress ku dengan memukul stick drum hingga bisa menimbulkan bunyi berdebam.
          Kho bukan orang yang banyak bicara, tapi sekalinya bicara, dia langsung menyadarkanku akan satu hal...
          “Aku iri padamu. Kamu bisa bebas melakukan apapun. Sedangkan aku enggak. Sejak dulu, aku selalu di atur-atur. Orang tuaku super protektif. Dia selalu membatasiku. Melarangku ini dan itu atau menyuruhku melakukan ini dan itu. Hingga aku nggak punya waktu untuk diriku sendiri,”
          Waktu Kho menatap ke arah gue, jantung gue langsung deg-degan, “Orang tuamu diam, bukan berarti mereka tidak mau tahu. Tapi mereka ingin kamu dewasa secara sendirinya. Mereka ingin tahu seberapa jauh kamu berkembang,”
          Pikiran gue melayang jauh. melambung dan terlempar ke masa lalu. Saat gue masih kecil hingga gue masuk SMP. Orang tua gue perhatian juga ke gue. Hanya saja, gue nggak pernah maksimal mengembangkan diri. Padahal kesempatan begitu besar. Gue mulai berpikir lagi, apa saja yang gue lakuin di masa lalu? Kenapa waktu gue bisa terbuang sia-sia? Bukankah harusnya gue udah bisa main musik?
          Gue sendiri yang memutuskan untuk keluar dari eskul taekwondo, semua gara-gara gue males hari minggu gue terganggu. Waktu itu, gue pengen diam di rumah dan nonton kartun aja. Gue nggak mau kelewatan Inuyasha di setiap episodenya. Gue nggak mau ketinggalan aksinya Pokemon. Sekarang, apa yang gue dapat? Penyesalan.
          Kho benar, gue harus dewasa.